>

Konflik dengan Manusia Jadi Ancaman Besar untuk Komodo

  Selasa, 28 Mei 2019   Rizma Riyandi
Komodo

AYO BACA : 7 Manfaat Memelihara Hewan

JAKARTA PUSAT, AYOJAKARTA.COM--Pertanian berpindah salah satu ancaman kepunahan biawak komodo (Varanus komodoensis) sebagai satwa langka yang dilindungi di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hal ini disampaikan peneliti zoologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Evy Arida.

Teknik pertanian berpindah slash and burn yang banyak dilakukan masyarakat di Flores bertujuan menumbuhkan pucuk tanaman baru.

Saat itu, katanya, yang terjadi, rusa lebih banyak terlihat sehingga mudah diburu masyarakat.

Hal itu yang menurut dia menjadi sumber konflik antara manusia dengan komodo. Perebutan makanan terjadi, di seluruh bagian pulau yang menjadi habitat hidupnya, yakni padang sabana dan pesisir pantai.

Konflik manusia dan komodo terkait dengan perebutan makanan, juga terjadi seperti di Pulau Rinca. Komodo-komodo di pulau tersebut “gemar” memakan ikan-ikan tangkapan nelayan yang kebetulan sedang dijemur.

Evy mengatakan domestikasi hewan besar ini masih sulit dilakukan karena membutuhkan ruang yang besar.

“Untuk kandang saja ukurannya setidaknya seperti lapangan bola,” katanya di Jakarta, Selasa (28/5/2019).

Oleh karena itu, untuk upaya peningkatan populasi komodo, menurut dia, akan lebih baik dilakukan dengan cara menyelamatkan telur-telur satwa liar predator itu.

Anak-anak komodo baru dilepaskan ke alam saat sudah mencapai usia aman.

Evy mengatakan predator dari telur maupun anakan komodo datang dari induknya maupun komodo dewasa lainnya.

Kanibalisme terjadi pada hewan yang dapat mencapai panjang tiga meter dengan bobot lebih dari 100 kilogram.

AYO BACA : Tempat Penitipan Hewan Mulai Ramai Jelang Musim Mudik

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar