>

Dian Sastrowardoyo Ungkap Sang Anak Terdiagnosis Autisme

  Sabtu, 24 Agustus 2019   Istihanah Soejoethi
Deputy Chief Of Corporate Affairs Astra Riza Deliansyah (kedua kiri) dan Pegiat Seni Dian Sastro (ketiga kiri) berfoto bersama ratusan peserta usai sosialisasi Satu Indonesia Award 2019 di Hotel Excelton Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (19/7/2019). Palembang menjadi kota ketiga sosialisasi Semangat Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Award 2019 yang diikuti mahasiswa, komunitas muda, dan pegiat kegiatan di Palembang untuk menjaring para pegiat program inspiratif untuk mendukung kesejahteraan Indonesia. (ANTAR

JAKARTA SELATAN, AYOJAKARTA.COM—Dian Sastrowardoyo mengungkapkan kepada publik mengenai kondisi anak pertamanya yang terdiagnosis autisme. Hal itu ia ungkapkan dalam konferensi pers Pameran Anak Spesial (SPEKIX) 2019 di Jakarta Selatan, Jumat (23/8/2019). 

Pemain “Ada Apa degan Cinta” itu mengaku sudah tahu tentang kondisi anaknya saat sang anak masuk usia delapan bulan. Dia menyadari ada hal yang berbeda pada diri putranya.

"Dia enggak punya ketertarikan sama anak-anak lain. Dia enggak bisa menggunakan telunjuk. Mau nunjukin dia tertarik, dia tarik tanganku," ujar Dian tentang putranya, Syailendra Naryama Sastraguna Sutowo.

Bukan hanya tidak dapat menggerakkan telunjuk, perempuan berusia 37 tahun itu juga menyadari ada hal lain dari diri anaknya yang juga berbeda dengan anak-anak lain, seperti sulit melakukan kontak mata ataupun gerakan mulut.

"Dia jarang kontak mata. Aku pikir karena aku orangnya bonding. Sebagai orang tua, aku merindukan bonding. Ini enggak terjadi sama anakku sampai usianya empat tahun," kata Dian tentang upayanya untuk dekat dengan orang tua.

Dian semakin menyadari putranya berbeda dengan anak-anak lain ketika sang anak masuk prasekolah.

"Di kelas, anakku enggak tertarik ikut kegiatan yang diajarkan gurunya. Dia lain sendiri dan membuka pikiranku. Aku coba cari tahu yang lebih lanjut," ujarnya.

Alumnus Fakultas Sastra dan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu lantas mengajak putranya ke tiga dokter untuk menjalani pemeriksaan demi mengetahui tanda-tanda autisme.

Dia juga membawa Syailendra ke para ahli untuk menjalani terapi, seperti okupasi, perilaku, dan bicara. Dia juga melatih anaknya melakukan kontak mata dan berkomunikasi.

"Aku membuka diri dan melatih anakku bisa melakukan eye contact. Kami sekeluarga sepakat tidak memberikan apapun sampai dia meminta sendiri. Aku melakukan seperti yang dilakukan saat terapi," katanya.

Saat berusia enam tahun, putra Dian Sastro tidak memerlukan terapi lagi. Ketika masuk usia delapan tahun, Syailendra kemampuan sosialnya sudah meningkat.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar