Sebulan ke Depan, Pemerintah Perlu Antisipasi Gejolak Harga Beras

  Rabu, 09 Oktober 2019   Widya Victoria
Andi Akmal Pasluddin/dok

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Kemarau berkepanjangan di tahun 2019 ini telah menimbulkan kekeringan di hampir menyeluruh wilayah tanah air. 

Dampak kekeringan ini memicu kebakaran lahan, kesulitan air bersih, hingga kebakaran hutan juga gagalnya panen atau puso di beberapa wilayah.

Anggota DPR asal Sulawesi Selatan, Andi Akmal Pasluddin meminta pemerintah dalam waktu sebulan ke depan perlu antisipasi manajemen stok pangan yang baik akibat gagal panen yang saat ini menimpa juga sejumlah daerah seperti Bone, Bulukumba, Wajo, Pangkep, Maros, dan sekitarnya. 

“Musim kekeringan yang berkepanjangan ini membuat lahan padi yang gagal panen atau puso melonjak tajam tahun ini. Pemerintah perlu menyiapkan langkah-langkah taktis untuk mengendalikan harga beras pada bulan depan yang diduga akan bergejolak,” pinta legislator terpilih asal Kabupaten Bone ini.

Akmal menjelaskan, data yang diterimanya dari beberapa sumber, telah terjadi kekeringan pada luasan lahan pertanian yang meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan tahun lalu. Lahan pertanian yang terpapar puso mencapai hingga 70 ribu hektare (ha). Angka ini meningkat tajam bila dibandingkan tahun lalu yang mencapai 30 ribu hektar. 

Selain kegagalan panen yang mengurangi jumlah stok pangan nasional, juga telah memicu para petani menanam komoditas non beras, sehingga pasokan beras di gudangnya kosong. Akibatnya, petani beras menjadi konsumen beras.

Akmal menambahkan, data Kementerian Pertanian pun menunjukkan bahwa lahan padi yang puso akibat kekeringan mencapai 31 ribu ha hingga Juli 2019. Luas lahan yang puso ini melonjak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dimana tahun lalu sekitar 26-28 ribu ha.

"Meski saat ini sudah mulai terlihat akan segera masuk musim penghujan, namun akibat kekeringan ini saya berharap kepada pemerintah tidak melakukan impor beras secara besar-besaran. Kita akan melihat kinerja pemerintah satu bulan ke depan apakah mampu mengatasi manajemen stok pangan, atau sama saja mengambil solusi pintas dan malas berpikir dengan melakukan impor beras," pungkas Akmal.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar