>

Akses ke Ibu Kota Negara yang Baru, Basuki Targetkan Jembatan Pulau Balang II Selesai Akhir 2020

  Sabtu, 07 Desember 2019   Aldi Gultom
Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, memantau pembangunan Jembatan Pulau Balang II yang berada di atas Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Pembangunan jembatan tersebut sudah mencapai 71 persen hingga Desember ini. (Foto: Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Pembangunan Jembatan Pulau Balang II akan selesai pada akhir tahun 2020, lebih cepat dari target kontrak pekerjaan yang selesai pada 2021. 

Pembangunan jembatan yang berada di atas Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur tersebut sudah mencapai 71 persen hingga Desember ini

"Dengan adanya rencana Ibu Kota Negara (IKN) baru di Provinsi Kalimantan Timur, maka jalan akses di sisi Penajam yang dikerjakan oleh Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara dan jalan akses Balikpapan oleh Pemerintah Provinsi Kaltim, akan saya dorong untuk dapat diselesaikan juga," kata  Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono 

Bahkan diungkapkan Menteri Basuki, rencana menyambungkan jembatan tersebut dengan jaringan Jalan Tol Balikpapan menuju kawasan IKN sedang dikaji. 

"Selain jalan provinsi, kita juga sedang mempertimbangkan rencana untuk menghubungkan Jembatan Pulau Balang II dengan jalan tol, sehingga akses menuju IKN lebih lancar dan nyaman, tidak banyak berkelok-kelok, seperti yang kita lalui saat meninjau tadi," ujarnya. 

Dikatakan Menteri Basuki, kehadiran Jembatan Pulau Balang II akan memperlancar konektivitas antara Samarinda, Balikpapan dengan IKN yang baru di Kabupaten Penajam Paser Utara. Selain itu Jembatan Pulau Balang II juga akan meningkatkan konektivitas pada Lintas Selatan Kalimantan sebagai jalur utama angkutan logistik karena jarak dan waktu tempuh menjadi lebih singkat.

Saat ini, kendaraan dari Balikpapan menuju Penajam dan selanjutnya ke Kota Banjarmasin di Kalimantan Selatan dan kota lainnya, harus memutar dengan jarak sekitar 100 km dengan waktu tempuh sekitar 5 jam. 

Dengan adanya jembatan tersebut, nantinya jarak akan menjadi lebih pendek menjadi hanya sekitar 30 km dan perjalanan dapat disingkat hanya dalam waktu 1 jam. Selain sebagai penghubung jaringan jalan poros selatan Kalimantan, jembatan ini juga mendukung rencana pengembangan pelabuhan peti kemas dan kawasan industri Kariangau. 

Konstruksi jembatan tipe cable stayed ini terdiri dari bentang utama sepanjang 804 meter, jembatan pendekat sepanjang 167 meter, dan jalan akses sepanjang 1.807 meter. Biaya pembangunan jembatan adalah Rp 1,38 triliun.

Saat ini progres konstruksi Jembatan Pulau Balang II sudah memasuki proses pengecoran lantai jembatan dan pemasangan cable stayed jembatan. Salah satu tantangan dalam pembangunan jembatan tersebut adalah faktor teknis terkait pemasangan bored pile karena terdapat lapisan batu yang sangat keras, sehingga harus mengubah metode pemancangannya. Tantangan lainnya adalah memasuki musim hujan 2019/2020, angin dan arus laut yang kuat. 

Jembatan tersebut nantinya akan dilengkapi teknologi structural health monitoring system (SHMS) berupa sensor yang berfungsi untuk memantau kondisi kesehatan konstruksi jembatan. Pusat pemantauan tersebut saat ini sedang dibangun di bawah Jembatan Pulau Balang II. Sensor seperti itu sudah diaplikasikan pada empat jembatan lainnya di Indonesia, yakni di Jembatan Suramadu, Jembatan Ir. Soekarno di Manado, Jembatan Merah Putih Ambon, dan Jembatan Musi IV Palembang. 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar