>

Ini Penjelasan Mengapa LRT Jakarta Masih Sepi Penumpang

  Sabtu, 21 Desember 2019   Aldi Gultom
Rangkaian kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) sedang berhenti di Stasiun Velodrome Jakarta Timur. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Ada beberapa faktor yang menyebabkan empat dari enam stasiun LRT Jakarta masih mengalami penurunan jumlah penumpang.

Kepala Divisi Sekretaris PT LRT Jakarta, Arnold Kindangen, berjanji permasalahan tersebut akan diperbaiki. Diakui ada kondisi tersendiri yang membuat jumlah penumpang di empat stasiun tidak terlalu banyak.

"Memang area empat stasiun LRT Jakarta yang sepi tersebut jauh dari rumah warga. Selain itu, di daerah-daerah tersebut terdapat banyak pertokoan. Pekerjanya membawa kendaraan beroda dua alias motor," kata Arnold di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Jumat (20/12/2019).

Selanjutnya, panjang infrastruktur LRT Jakarta yang hanya 5,8 kilometer juga membuat masyarakat lebih memilih menumpang ojek online.

Arnold menambahkan, ada faktor demografi. Kebanyakan pengguna LRT menuju ke pusat kota untuk bekerja. Karena itulah stasiun yang paling padat pengunjungnya adalah Stasiun Velodrome, mencapai 41,2 persen.

"Yang relatif stabil itu Stasiun Velodrome. Mereka menuju ke pusat kota untuk bekerja," ujarnya.

Arnold menjelaskan, total penumpang di seluruh stasiun LRT Jakarta saat sudah beroperasi secara komersial pada 1-17 Desember 2019 sebanyak 74.187 penumpang. 

Dari total jumlah penumpang tersebut, terdiri atas Stasiun Velodrome mencapai 41,2 persen penumpang, Stasiun Boulevard Utara 32,2 persen, Stasiun Equestrian 4,5 persen, Stasiun Pulomas 6,5 persen, Stasiun Pegangsaan Dua 7,5 persen, dan Stasiun Boulevard Selatan 8,1 persen.

Arnold berharap bisa berkolaborasi dengan pemerintah setempat, yaitu Wali kota Jakarta Timur dan Jakarta Utara untuk membuat LRT lebih menarik melalui kegiatan-kegiatan. 

“Tidak sekadar kampanye dong, harus ada aktivitas yang menarik penumpang di LRT Jakarta,” kata dia.

Direktur Keuangan dan Pengembangan Bisnis, Rudy Hartono, mengatakan, pendapatan LRT Jakarta sejak beroperasi komersial masih sekitar Rp 370,9 juta. Angka tersebut didapatkan berdasarkan total penumpang LRT Jakarta dari 1-17 Desember 2019 yang baru mencapai 74.187 orang dikalikan dengan tarif Rp 5.000 di seluruh stasiun.

Memang terkesan tak sebanding dengan usaha membangunnya. PT Jakarta Propertindo (Jakpro) mengeluarkan biaya mencapai Rp 5,3 triliun untuk pembangunan infrastruktur LRT Jakarta sepanjang 5,8 kilometer. Biaya itu terdiri atas ongkos pembangunan depo untuk seluruh jalur LRT sepanjang 110 kilometer sebesar Rp 2,6 triliun dan sisanya sebesar Rp 2,7 triliun untuk pekerjaan jalur sepanjang 5,8 kilometer.

"Tapi, data pendapatan di luar tiket penumpang belum dijumlahkan secara matang. Sehingga, data pendapatan sementara yang dapat disampaikan baru mencakup tiket penumpang," ujar Rudy.

Upaya menyedot pendapatan di luar tiket belum maksimal karena LRT Jakarta masih tergolong baru. Karena itu ia akui pihaknya sedang berupaya untuk membuka ruang iklan agar pendapatan LRT Jakarta semakin meningkat.

"Kan kami baru jalan juga, baru pada tahap mem-bidding berbagai pihak untuk buka tenant-nya di stasiun kami, pasang iklan juga dan sebagainya. Jadi, pendapatan masih sedikit sekali," terangnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar