Pedangdut Lucinta Luna Alami Dysphoria Gender, Apa Gejalanya?

  Jumat, 14 Februari 2020   Fitria Rahmawati
Lucinta Luna (instagram: @lucintaluna)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM - Pedangdut Lucinta Luna terjerat kasus penyalahgunaan narkoba. Akibat kasus hkum tersebut, identitas aslinya pu terkuak. Artis yang kerap menjadi kontroversi dengan pengakuannya sebagai perempuan tulen tersebut, terbongkar mengganti gendernya dari laki-laki menjadi perempuan. Terbaru, ia bahkan diklaim mengalami dysphoria gender.

Lucinta Luna pun telah mengajukan surat permohonan ganti kelamin ke Pengadila Negeri Jakarta Selatan dengan alasan tersebut pada 26 November 2019 lalu. Ia melakukan operasi ganti kelamin di Thailand.

Menurut mantan kuasa hukumnya yang tidak ingin disebutkan namanya, membenarkan Lucinta Luna mengalami dysphoria gender dengan bukti Surat Keterangan Dokter atau Certificated by Attending Doctor dari Rumah Sakit Rajyindee Thailand.

"Buktinya surat-surat operasi (ganti kelamin) dari RS di Thailand. Kan logikanya kalau orang udah operasi kelamin mau ngomong apalagi. Dia kan ada penyakit dysphoria itu," katanya saat dikonfirmasi, Kamis (13/2/2020).

Identitas masa lalu Lucinta bahkan mulai menemui titik terang, yakni bernama Muhammad Fatah sebelum berganti kelamin. Ia kemudian mengganti gendernya, dan menamai dirinya Ayluna Putri. Berbekal nama tersebut, ia mempopulerkan dirinya dengan nama Lucinta Luna.

Seperti yang diketahui, dysphoria gender merupakan gangguan identitas gender yang biasa dialami transgender. Gangguan ini membuat seseorang tidak nyaman, tertekan hingga depresi karena merasa identitas gendernya tidak sesuai jenis kelaminnya sejak lahir.

Menurut panduan psikiatri Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) dilansir dari Web MD, seseorang bisa didiagnosis mengalami dysphoria gender jika mengalami gejala tertentu selama minimal 6 bulan. Pada anak-anak, gejala dysphoria gender, antara lain:

1. Secara konsisten, mereka mengatakan dirinya seorang gadis walaupun memiliki sifat fisik anak laki-laki atau sebaliknya.

2. Mereka memiliki perasaan suka dengan teman yang jenis kelaminnya sama.

3. Menolak memakai pakaian, mainan dan melakukan permainan khas untuk anak laki-laki atau perempuan.

4. Menolak buang air kecil dengan cara berdiri atau duduk seperti yang dilakukan anak laki-laki atau perempuan.

5. Mereka menyatakan ingin menyingkirkan alat kelaminnya dan memiliki alat kelamin yang diinginkan.

6. Mereka meyakini akan tetap tumbuh sebagai perempuan ketika dewasa, meskipun memiliki fisiknya laki-laki dan sebaliknya.

7. Mereka mengalami tekanan ekstrim tentang perubahan tubuhnya selama masa pubertas.

Sedangkan pada remaja dan orang dewasa, gejala dysphoria gender meliputi:

1. Mereka merasa jenis kelaminnya sudah tidak selaras dengan tubuhnya.

2. Jijik melihat alat kelaminnya. Ada pula yang tidak ingin mandi, berganti pakaian atau berhubungan seks agar tidak melihat alat kelaminnya.

3. Berkeinginan kuat untuk mengganti alat kelaminnya

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar