Soto, Coto, Sroto

  Kamis, 20 Februari 2020   Editor
Jaya Suprana dan Suryo Prabowo (Rinton)

Saya beruntung memiliki seorang sahabat merangkap mahaguru kemiliteran bagi saya yang awam militer ini, yaitu tak kurang dari Letnan Jenderal TNI Purnawirawan Suryo Prabowo yang pernah menjabat Kepala Staf Umum Tentara Nasional Indonesia  dan Wakil Gubernur Timor Timur. 

Perwira TNI AD korps Zeni ini adalah alumni AKABRI (sekarang Akmil) tahun 1976, dengan penghargaan Adhi Makayasa dan Tri Sakti Wiratama sebagai taruna lulusan terbaik.

Garang 

Letjen TNI Purnawirawan yang tersohor garang mengritik kebijakan pemerintah yang memang layak dikritik di medsos itu menanggapi naskah saya berjudul “Kerajaan Soto Indonesia” (19 Februari 2020) dengan pertanyaan: “Pak Jaya tahu gak bedanya Soto dengan Coto (Makasar) dan Sroto (Banyumas)?“  

Karena tahu Pak Suryo Prabowo memang suka jahil melempar pertanyaan yang menjebak maka saya wajib berhati-hati dalam menjawab pertanyaan kultural-kulinaris itu dengan suatu jawaban tegas namun tetap bersifat jujur secara selera personal “Tahu tapi saya tetap paling suka soto aja deh!” 

Menyadari saya tidak membiarkan diri terjebak masuk perangkap pertanyaan beliau, langsung Pak Suryo Prabowo gesit garang merangsek masuk dengan jawaban oleh dirinya sendiri atas pertanyaan dirinya sendiri secara lugas gamblang terang-benderang “Ternyata bedanya Soto, Coto dan Sroto terletak pada daging yang dimasaknya: - Soto pakai daging Sapi - Coto pakai daging Capi - Sroto pakai daging Srapi“. 

Menghadapi penjelasan terang- benderang sekaligus konyol-kemonyol maka mustahil dibantah seperti itu, terpaksa saya hanya bisa mengelus dada (saya sendiri) sambil nyeletuk “Ambyaaaaar tenan!


Jaya Suprana 
Penulis adalah penggemar soto dengan daging sapi mau pun daging sayam eh …. ayam

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar