Kontroversi 'Si Kaya-Si Miskin', Jokowi Harus Evaluasi Kinerja Jubir Pemerintah!

  Minggu, 29 Maret 2020   Aldi Gultom
Juru bicara Pemerintah untuk Penangananan COVID-19, Achmad Yurianto. (Youtube BNPB)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Negara sudah seharusnya memberi perlindungan merata, tidak membedakan kaya miskin. 

Sesuai amanat UUD 1945 bahwa perlindungan, keadilan dan kesejahteraan itu bagi seluruh rakyat Indonesia. Warga Indonesia berhak mendapat keadilan dalam penanganan kesehatan secara merata di tengah pandemi COVID-19 ini.

Demikian kritik anggota Komisi IX DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Muchamad Nabil Haroen terkait pernyataan kontroversial 'si kaya-si miskin' dari Jurubicara Pemerintah untuk Penangananan COVID-19, Achmad Yurianto. 

"Jurubicara jangan blunder, harus sampaikan subtansi dengan cara yang benar, gagasan yang benar, pada situasi yang benar," ujar Nabil dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (29/3/2020).

Nabil mengatakan, seorang Jubir pemerintah seharusnya tidak mengkotak-kotakkan dengan atribut material seperti itu. Justru ini saatnya semua pihak bergotong royong menghadapi wabah COVID-19. 

"Semuanya punya kewajiban dan tanggung jawab sesuai proporsi masing-masing. Penyakit tidak mengenal strata sosial dan bisa mengenai siapa saja," tegasnya. 

Ia meminta Presiden Joko Widodo harus evaluasi kinerja Achmad Yurianto. Evaluasi itu penting agar Yuri sebagai Jubir pemerintah tidak salah ucap, salah omong, atau blunder, bahkan jadi mengganggu gerak tim. 

"Ini penting digarisbawahi bahwa saya sangat mengapresiasi kinerja tim medis yang bertugas siang malam, juga segenap instansi yang membantu untuk menangani COVID-19 ini," imbuhnya, 

Nabil mengingatkan rakyat sudah bergerak dan saatnya pemerintah membuka informasi serta ambil kebijakan progresif. 

"Persebaran virus corona ini tidak membedakan kaya miskin. Banyak sekali teman-teman saya, tidak ada beda kaya dan miskin jadi korban," tuturnya. 

"Kita harus gerak cepat, dengan koordinasi semua kepala daerah untuk menjaga kawasan masing-masing," sambung Nabil.

Bahkan, menurut Nabil. warga di desa-desa sudah peduli dengan bahaya COVID-19. Mereka membatasi pergerakan pendatang, membersihkan tempat ibadah dan tempat umum dengan fasilitas kebersihan mandiri, juga saling menjaga serta mengingatkan untuk sama-sama menjaga kesehatan masing-masing. 

"Kita harus apresiasi pergerakan rakyat, tapi mereka ada batasnya. Selanjutnya, dibutuhkan kebijakan cepat, tepat, dan sekaligus informasi akurat dari pemerintah agar semua bersiap dan bergotong royong saling bantu," terangnya.

Nabil mengajak ini saatnya membangkitkan gairah persatuan dan kerjasama, tanpa membedakan strata sosial. Karena keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. 

"Semoga kita semua mampu melewati musibah pandemi Covid-19 dengan selamat. Amin," tutup Nabil yang juga ketua umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa Nahdlatul Ulama.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar