--> -->

Banting Stir Jadi Perajin Masker, Pelaku UMKM Ini Raup Untung dari Wabah Corona

  Senin, 20 April 2020   Hendy Dinata
Herwadi (Bank BRI)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Pandemi global virus corona membuat banyak pelaku Unit Usaha Kecil Menengah (UMKM) di Tanah Air banting stir jualan masker.

Herwadi (39), salah satunya. Sudah lama bisnis pakaian jadi dilakoni Herwadi, tepatnya sejak tahun 2005 silam. Ia biasa berdagang di Pasar Jelojo, Janapria Lombok Tengah dan Pasar Rarang Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). 

Namun ketika wabah COVID-19 melanda Indonesia, usahanya itu menurun drastis. Herwadi pun memutar otak agar dapurnya tetap ngebul. Ia melihat peluang jualan masker kain di tengah pandemi ini. 

“Saya sudah tidak melakoni usaha jual pakaian jadi lagi, semenjak wabah COVID-19, pasar tempat saya berdagang ditutup sementara oleh pemerintah. Saya melihat peluang bisnis baru agar saya dan delapan orang pekerja saya tetap bisa hidup, kami membuat dan menjual masker untuk masyarakat di wilayah Lombok,“ jelas Herwadi.

Herwadi mengaku saat ini mendapat pesanan sebanyak 10 ribu masker kain dari Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. Nantinya ribuan masker itu disalurkan kepada warga masyarakat setempat. 

“Dalam sehari saya membuat masker kurang lebih 1.000 lembar dengan tipe satu lapisan. Kami jual kepada pemerintah sebesar Rp 3.500 per lembar. Sebelumnya, kalo langsung dijual kepada broker atau tengkulak masker, biasanya saya memberikan harga Rp 5.000 per lembar,“ tuturnya.

Tak tanggung-tanggung dalam tiga minggu belakangan, Herwadi mampu meraup puluhan juta rupiah dari penjualan masker kepada broker besar di wilayah Lombok. 

Herwadi mengatakan, para broker biasa mengambil dalam jumlah yang cukup banyak, kisaran 1.000 lembar masker untuk sekali ambil. Pengambilan biasanya terjadi 1-2 hari sekali. 

Herwadi menambahkan, masker produksinya tidak hanya dipasarkan di Lombok Timur, namun juga ke berbagai kota lain, seperti Lombok Barat, dan Lombok Tengah.

Untuk mendukung kelangsungan usaha, Herwadi memperkuat permodalan dengan KUR dari BRI. Herwadi meminjam KUR BRI sebesar Rp 25 juta untuk membeli bahan baku kain dan karet yang saat ini mulai langka dan mahal. 

Bantuan KUR ini sangat membantu ia dalam menyediakan stok barang dan membayarkan upah mingguan para pekerjanya.

Sudah tiga tahun lamanya ia menjadi nasabah setia BRI, baik pinjaman dan simpanan. Ia mengaku merasa nyaman dengan layanan yang diberikan BRI. 

“Proses pengajuan dan pencairan kreditnya mudah dan cepat, ini yang saya suka dari BRI. Hanya butuh waktu dua sampai tiga hari pengajuan pinjaman langsung disetujui dan ditransfer ke rekening saya,“ terang Herwadi.  

Senada dengan hal tersebut, Corporate Secretary Bank BRI Amam Sukriyanto mengatakan bahwa BRI memang banyak memberikan kemudahan bagi para nasabahnya, terlebih dalam masa-masa sulit seperti sekarang ini. Proses pengajuan, analisis kredit, dan pencairan yang cepat serta terdigitalisasi adalah salah satu kemudahan yang ditawarkan oleh BRI.

Amam menyebutkan, penyaluran kredit mikro Bank BRI secara nasional hingga Desember 2019 lalu sebesar Rp 307,7 triliun. Sementara untuk wilayah Denpasar sendiri, mencapai Rp 21,4 triliun hingga akhir Maret 2020 lalu.

“Kami berharap semakin banyak nasabah Bank BRI yang ikut terlibat dalam memerangi wabah COVID-19  ini. BRI terus berkomitmen untuk mendukung dan memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM di situasi seperti sekarang ini,” tutup Amam.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar