Riset Perguruan Tinggi Hadapi COVID-19 Perlu Diperhatikan Pemerintah

  Selasa, 21 April 2020   Widya Victoria
Wakil Ketua Komisi X DPR, Abdul Fikri Faqih

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Wakil Ketua Komisi X DPR, Abdul Fikri Faqih meminta realokasi APBN 2020 untuk penanganan pandemi COVID-19 juga dialokasikan untuk riset perguruan tinggi.  

“Anggaran besar penanganan pandemi sebesar Rp 405,1 triliun harusnya juga untuk riset, negara yang kuat di dunia saat ini adalah yang mampu memberi solusi hadapi infeksi Covid-19,” kata Fikri usai rapat dengar pendapat Komisi X DPR RI dengan kalangan akademisi kedokteran dari berbagai Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia secara virtual, Senin (20/4/2020).

Fikri mengatakan, penanganan pandemi yang dikonfirmasi masuk ke Indonesia sejak awal Maret itu direspon pemerintah dengan penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 tahun 2020 tentang kebijakan keuangan negara dan stabilitas sistem keuangan untuk penanganan pandemi COVID-19.  

“Ini kan bentuk kebijakan responsif yang mestinya fokus kepada pandeminya,” kritik politisi PKS ini.

Ia menilai kebijakan penggelontoran dana sebesar Rp 405,1 triliun semestinya juga memperhatikan tren kebijakan ekonomi dunia. 

“Perhatikan apa yang tengah dilakukan negara-negara besar seperti China dan Amerika, mereka sedang memulai perlombaan obat dan vaksin, dasarnya tentu dari riset,” imbuh Fikri.

Karenanya, ia mendesak perhatian lebih untuk riset bagi pendidikan tinggi, terutama terkait pencegahan infeksi dan penanganan COVID-19.  

“Jangan-jangan sudah ada peneliti kita di perguruan tinggi yang sudah menemukan obat dan vaksin, namun tidak terekspos karena minim dukungan anggaran dan perhatian,” cetus Fikri.  

Fikri juga mengeritik pengambilan keputusan di tingkat pusat terkait penangangan COVID-19 yang terkesan tidak berdasar riset ilmiah.  

“Misalnya keputusan untuk membeli obat klorokuin dan avigan sebanyak jutaan butir,” tambahnya.   

Menurut Fikri, kedua obat itu masih menjadi pro-kontra di kalangan peneliti kedokteran di tanah air, karena efek samping yang bisa ditimbulkannya, daripada efektivitas penyembuhan.  

“Ini menunjukkan tidak ada penasihat istana yang terkoneksi dengan dunia riset kedokteran kita,” kata Fikri.

Selain obat, teknik-teknik pengobatan melalui teknologi dan penelitian di rumah sakit juga penting untuk penanganan COVID-19. Seperti yang sudah dilakukan oleh kolaborasi peneliti Institus Teknologi Surabaya dan rumah sakit Universitas Airlangga dalam riset membuat robot RAISA.  

Robot medical Assistant ITS-Airlangga (RAISA) tersebut mampu menggantikan peran tenaga medis dalam merawat pasien positif virus Corona.   

“Kenapa kita tidak pakai robot buatan anak negeri ini, daripada harus mengorbankan nyawa para tenaga medis di garda depan perang wabah,” tanya Fikri.  

Fikri juga menilai potensi ekonomi besar yang bisa diperoleh Indonesia ketika mampu menjadi pionir terdepan yang sukses menangani wabah COVID-19 dan bahkan menjadi penyelamat bagi jutaan nyawa di dunia.   

“Hasil riset perguruan tinggi ini bisa dipatenkan dan memberi nilai ekonomi tinggi di era pandemi, tinggal mau atau tidak tampil menjadi pemenang?” pungkasnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar