Media Asing Puji Gerakan Gotong Royong Warga, tapi Soroti Kelambanan Pemerintah Tangani Corona

  Senin, 27 April 2020   Budi Cahyono
[Ilustrasi[ Karantina wilayah di Kota Semarang. Salah satu bentuk gotong royong masyarakat Indonesia dengan karantina wilayah mandiri. (Ayojakarta.com/Kemmy Wijaya)

 

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM – Penanganan virus corona di Indonesia mendapatkan sorotan media asing. Menurut mereka, Pemerintah Indonesia lamban menangani kasus virus corona.

Media asing dari Australia, ABC News menilai Indonesia akan kalang kabut menghadapi pandemi corona. Mereka menulis, "Turis beruntung bisa pergi, sementara ada jutaan masyarakat Indonesia yang tak punya jalan keluar."

ABC News menilai pemerintah telah gagal menghadapi pandemi di awal kemunculannya. Namun, mereka luput menyoroti gerakan gotong royong yang justru diinisiasi oleh masyarakat akar rumput.

AYO BACA : Pemerintah Bantah Tudingan Lamban Tangani Virus Corona

Dikutip dari The Diplomat, editor The Jakarta Post, Shane Preuss menyebut selama pandemi corona, gerakan akar rumput di Tanah Air justru yang paling giat memberikan bantuan.

Langkah pemerintah yang yang lamban hingga sikap pemerintah yang denial pada masa awal pandemi ternyata membuat masyarakat turun tangan.

Ia kemudian menyebut sejumlah contoh gerakan, salah satunya yaitu gerakan penggalangan dana di platform kitabisa.com, yang berhasil mengumpulkan dana hingga miliaran rupiah.

Hasilnya, masyarakat berhasil menyumbang alat pelindung diri (APD) untuk tenaga medis, membantu garda terdepan Covid-19 seperti penjual makanan, supir ojek online, hingga pemulung.

AYO BACA : 23.472 Orang Daftar Jadi Relawan Penanganan Corona

Tak hanya itu, masyarakat Indonesia di mata Shane Preuss juga dianggap telah berpengalaman dalam menghadapi krisis, mulai dari krisis yang disebabkan bencana alam, konflik horizontal, hingga krisis moneter 1998

"Selama ini, bukti menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia telah teruji menghadapi masa-masa sulit sehingga ada tanggungjawab dan juga sukacita dalam membantu sesama," tulis Shane.

Tak hanya itu, pada tahun 2018, Charity Aid Foundation (CAF) World Giving Index mendapuk Indonesia sebagai negara dengan tingkat volunterisme tertinggi di dunia.

Terbukti, pada bulan Maret, sebanyak 15.000 mahasiswa kesehatan dari 158 universitas di Indonesia telah mendaftarkan diri sebagai relawan untuk menghadapi wabah virus corona covid-19.

Pada akhir tulisannya, Shane mengatakan, meski pemerintah masih terus bergelut dengan virus, namun inisiatif masyarakat akar rumput telah menunjukkan sisi lain dari negara Indonesia dalam menghadapi covid-19.

"Seharusnya, sikap dan cara masyarakat Indonesia dalam menghadapi Covid-19 dengan rasa percaya diri dan kebersamaan adalah sesuatu yang patut disoroti."

AYO BACA : Pemerintah Belum Mau Menetapkan Status Darurat Nasional Virus Corona

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar