>

May Day, KSPN Jateng Sebut Gelombang PHK Kian Dramatis

  Jumat, 01 Mei 2020   Fitria Rahmawati
Ilustrasi aksi buruh (istimewa)

SEMARANG, AYOJAKARTA.COM -- Gelombang PHK di Jateng sudah tak terbendung lagi sejak wabah Covid-19 menghujam telak di seluruh sektor perekonomian.

Buruh menjadi salah satu lini yang limbung dihantam virus yang berasal dari Wuhan, Tiongkok ini. Mereka rentan saat perusahaan memilih PHK di tengah pandemi yang belum tahu kapan akan usai.

Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN) Jateng, Nanang Setyono mengaku, gelombang PHK dan kasus buruh dirumahkan mendekati akhir April lalu bergitu sangat dramatis. Setidaknya, ada tambahan sekira 15.000 buruh yang terpaksa dirumahkan dan kena PHK.

AYO BACA : 3 Tuntutan Buruh di May Day Hari Ini

"Data dari Disnaker Jateng, per awal April, buruh yang ter-PHK dan dirumahkan ada 24.000. Ini dari sektor pariwisata. Sampai dengan hari ini, data yang kami himpun diluar Disnaker, ada penambahan dari berbagai sektor atau pabrik, sekitar 15.000. Jadi, total data Disnaker ditambah data kami, buruh yang dirumahkan dan di-PHK sekitar 40.000 se-Jateng," ujar Nanang kepada Ayosemarang, jaringan AyoMedia, Kamis (30/4/2020).

Nanang meminta, perusahaan mempertimbangkan kembali keputusan PHK. Menurutnya, buruh akan lebih tenang jika dirumahkan meski tanpa gaji. Sepahit-pahitnya tak bekerja dan tak ada pemasukan, skema merumahkan lebih bisa diterima ketimbang PHK.

"Kami meminta tidak ada PHK, dan memilih dirumahkan. Karena setelah pandemi berlalu, perusahan aktif kembali dan kami bisa bekerja lagi," imbuhnya.

AYO BACA : Pagebluk COVID-19 dan Potret Buram Nasib Buruh

Ia juga berharap perusahaan yang merumahkan karyawannya ikut memberikan kontribusi berupa kebutuhan pokok untuk menjamin isi perut para pekerjanya. Itu bisa dilakukan dengan menakar kemampuan masing-masing perusahaan.

"Tidak ada yang bisa kami lakukan saat ini. Daya beli masyarakat saat ini sangat rendah, dirumahkan dan di-PHK tidak bisa mendongkrak perekonomian untuk perusahaan bisa kembali normal," terangnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jateng, Sakina Rosellasari saat dikonfirmasi ternyata belum memiliki data pasti berapa buruh yang di-PHK hingga akhir April 2020. Ia berkilah, data tersebut terus berubah, bahkan dinamis.

"Data PHK memang dinamis bergerak setiap hari, data kami dari Pengawas Tenaga Kerja, dari Disnaker Kab/Kota. Mekaten," tutupnya.

AYO BACA : Dampak Covid-19, Ribuan Pekerja di Lebak Dirumahkan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar