DPR: Pemerintah Tak Punya Itikad Baik Turunkan Harga BBM

  Rabu, 06 Mei 2020   Widya Victoria
Anggota Komisi VII DPR, Saadiah Uluputty (dok pribadi)

 

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Pemerintah belum jua mengambil sikap untuk menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). 

Sebaliknya, rapat virtual Komisi VII DPR  dengan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif pada Senin (4/5/2020) lalu, disampaikan argumentasi tentang penyebab harga BBM tidak turun. 

Arifin menyebut pemerintah menunggu kestabilan harga minyak mentah dunia karena memiliki volatilitas yang tinggi. 

Anggota Komisi VII DPR, Saadiah Uluputty mengingatkan kondisi harga minyak dunia telah jatuh sejak Februari 2020. Sejumlah negara meresponi kondisi tersebut dengan menurunkan harga BBM dalam negerinya hingga 50 persen. Ia heran pemerintah malah menjadikan alasan volatilitas untuk tidak menurunkan harga BBM. 

“Pemerintah ingin mengkonstruksi alasan volatilitas untuk tidak menurunkan harga BBM. Di balik itu, pemerintah memang tidak berniat dan tidak beritikad baik untuk menurunkan harga BBM," kata Saadiah, Rabu (6/5/2020).

Harga minyak mentah dunia saat ini sedang menyentuh titik terendah sepanjang sejarah. Faktor pembentuk harga BBM sudah seharusnya mengalami penyesuain sejak dua bulan terakhir.

“Pemerintah berhenti untuk mengekploitasi masyarakat dengan memberi harga yang terlalu tinggi dari yang seharusnya. Rakyat dibiarkan bersedekah kepada negara terus-terusan dengan membeli BBM dengan harga tak wajar," tegas anggota Fraksi PKS Dapil Maluku  ini.

Perhitungan dia, jika tetap menggunakan formulasi Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 62K/MEM/2020 tentang formula harga dasar dalam perhitungan harga jual eceran jenis BBM umum dan minyak solar, maka harga keekonomian BBM akan tetap rendah dibanding dengan harga BBM yang dijual oleh Pertamina saat ini.

Dalam aturan Kepmen ESDM, penentuan harga BBM bergantung pada harga produk minyak hasil kilang di Singapura (Mean of Platts Singapore/MOPS) atau acuan Argus, di mana perhitungannya menggunakan rata-rata harga publikasi dua bulan ke belakang untuk penetapan harga BBM di bulan berjalan.   

Berdasarkan aturan ini, ditetapkan konstanta untuk jenis bensin RON di bawah 95 dan CN 48 Rp 1.800 per liter, serta Rp 2.000 per liter untuk RON 95, RON 98 dan CN 51.

Saadiah pun membuat kalkulasi, dengan menggunakan perhitungan baru berdasarkan Kepmen tersebut, seharusnya harga BBM mengalami penurunan menjadi sekitar Rp 5.340 per liter untuk Premium, Rp 5.400 untuk Pertalite, dan Rp 5.500 untuk Pertamax.

”Menggunakan Kepmen ESDM Nomor 62K/MEM/2020 pun harga BBM harusnya turun. Jika BBM diturunkan maka Pertamina tidak rugi secara signifikan karena sudah mendapatkan keuntungan dari selisih harga BBM selama beberapa bulan ini,” terangnya.  

Saadiah mempertegas, tak ada niatan menurunkan harga BBM, membuat publik  mempertanyakan konsistensi pemerintah untuk memperhatikan hajat hidup masyarakat. 

“BBM itu menyangkut hajat hidup rakyat. Jika tidak menurunkan harganya, konsistensi pemerintah sedang dipertaruhkan saat ini,” kata Saadiah.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar