Buruh Dukung Industri Beroperasi Lagi di Tengah Wabah

  Senin, 11 Mei 2020   Widya Victoria
Timboel Siregar

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) meningkat tajam selama masa pandemik virus corona. Selain itu, ribuan buruh sudah mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan dirumahkan. Perusahaan-perusahaan pun hampir kolaps.

Untuk memutar kembali roda perekonomian yang sudah terjun bebas, buruh mendukung beroperasinya kembali industri di tengah ancaman pandemik COVID-19. 

Sekjen Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (Opsi) Timboel Siregar menyatakan, dari sisi pertumbuhan ekonomi (PE) di kuartal I pada 2020 ini saja hanya 2,97 persen. Hal ini sebagai sinyal yang harus diantisipasi pemerintah mengingat, pandemik belum juga menunjukkan angka penurunan yang signifikan.

“Satu-satunya cara untuk mengendalikan TPT adalah dengan mendukung industri. Sehingga industri bisa beroperasi lagi dan merekrut pekerja,” ujar Timboel, Senin (11/5/2020).

Timboel menyatakan, stimulus terhadap industri harus segera dilaksanakan. Insentif fiskal atau keringanan pajak harus terus dilanjutkan. Selain itu juga pinjaman lunak untuk modal kerja harus segera direalisasikan, sehingga roda produksi berlanjut lagi.

“Program padat karya tunai di daerah juga harus dilaksanakan agar bisa merekrut pekerja. Proyek infrastruktur dilanjutkan agar ada perekrutan pekerja. Ini adalah dari sisi supply,” tuturnya.

Timboel Siregar mengingatkan, dunia industri terdampak hebat. Sehingga semakin banyaknya pekerja ter-PHK dan dirumahkan tanpa upah. Tak hanya itu banyak pekerja informal tidak bisa kerja lagi karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), maupun karena hal lain, seperti berkurangnya konsumen. Dengan kondisi yang tidak pasti ini, kata dia, bisa saja di kuartal kedua pertumbuhan ekonomi akan semakin menurun alias nyungsep.

Pertumbuhan Ekonomi (PE) itu adalah penjumlahan dari Consumsi Agregat + Investasi + Government Expenditure (Pengeluaran Pemerintah) + Ekspor - Impor.

“Dengan kondisi ini, consumsi agregat akan berkurang karena banyak pekerja ter-PHK dan dirumahkan, sehingga daya beli menurun. Demikian juga pekerja informal yang tergantung dari pekerja formal akan menurun pendapatannya,” jelas Timboel.

Untuk investasi, kata dia, dengan ketidakpastian ekonomi yang menjurus resesi ini sudah pasti terus menurun. Pasar modal masih tidak bergairah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih di angka 4500-an.

Goverment Expenditure masih difokuskan pada penanganan COVID-19. Sementara ini pembangunan infrastruktur sedang ditinggalkan dulu. Demikian juga pendapatan APBN masih seret. Hal ini menyebabkan Government Expenditure akan menurun.

“Untuk kondisi saat ini, impor bahan baku obat dan alat kesehatan untuk menangani COVID-19 semakin besar. Sementara produk ekspor kita menurun, karena pasar luar negeri juga sedang melesu,” ujar Timboel.

Dari fakta-fakta itu, Timboel memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan anjlok di kuartal kedua. “Tentunya ini akan berdampak pada meningginya TPT,” jelasnya.

Berdasarkan data BPS di 2019, jumlah angkatan kerja pada Februari 2019 sebanyak 136,18 juta orang dengan TPT sebesar 5,01 persen atau 6,83 juta orang.

Pemerintah memang awalnya memiliki target penurunan TPT menjadi sebsar 4,8 persen pada 2020 atau sekitar 6,5 juta orang dari angkatan kerja.

Menurut Timboel, target penurunan TPT  itu bisa tercapai bila dalam keadaan normal. Dengan fokus pada peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) yaitu salah satunya dengan dukungan Program Kartu  Prakerja. Di samping upaya pemerintah untuk melanjutkan pembangunan infrastruktur, serta upaya investasi lainnya. 

“Kalau sekarang kan kondisi tidak normal. Dengan adanya COVID-19 saat ini, maka sangat mengkhawatirkan target TPT itu tidak tercapai dan bisa di atas 5 persen,” ujarnya.

Hal ini juga didukung oleh pertumbuhan angkatan kerja baru sekitar 2 juta orang yang berasal dari lulusan sekolah formal, termasuk perguruan tinggi. “Dengan kondisi kondisi ini maka saya menilai TPT akan meningkat, di atas 5 persen, bisa mencapai 5,5 persen,” cetusnya. 

Karena itulah, saran dia, satu satunya cara mengendalikan TPT dengan mendukung industri agar bisa beroperasi lagi dan merekrut pekerja.

“Tentunya tidak hanya dari sisi supply yang harus diperbaiki dan tingkatkan, tetapi juga dari sisi demand atau permintaan juga harus dipastikan tetap terjaga," tuturnya. 

Selain itu, bantuan sosial (bansos) harus terus dilanjutkan di masa pandemi ini sehingga daya beli masyarakat terjaga.

Namun yang pasti, kata dia, keberhasilan pengendalian TPT ini tergantung dari strategi dan upaya pemerintah untuk memastikan COVID-19 bisa segera selesai. Begitu pun dunia pulih dari wabah ini. 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar