>

Pengusaha Protes Status PSBB Berkepanjangan

  Senin, 11 Mei 2020   Widya Victoria
Hariadi B Sukamdani

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Pengusaha menginginkan dunia usaha terus berputar, meskipun dalam kondisi sulit. 

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariadi B. Sukamdani memandang, pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) malah semakin membuat perekonomian Indonesia terus mengalami keterpurukan.

“Kalau begini terus, bisa runtuh. Kita mau tetap berusaha. Operasi perusahaan tetap bisa berjalan, dan buruh juga tetap bisa bekerja. Itu yang dibutuhkan Apindo,” tutur Hariyadi, Senin (11/05/2020).

Meskipun PSBB disebut sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran COVID-19, tidak menjamin perekonomian akan bisa berputar kembali.

“Kita enggak tahu,  kalau PSBB terus. Padahal kita sudah sampaikan, kemampuan bertahan itu paling sampai akhir Juni nanti. Kalau masih tetap PSBB seperti ini, otomatis jaring pengaman sosial harus ditambah. Kalau negara enggak bisa memberikan. Kita harus realistis,” tuturnya lagi.

Menurut dia, yang perlu dilakukan pemerintah adalah fokus menjaga kesehatan dan keselamatan masyarakat, termasuk dunia usaha.  Sementara roda ekonomi biarkan terus berputar, tanpa harus dibatasi.

“Tetap harus utamakan faktor keselamatan. Pemerintah fokus pada urusan kesehatan, pengadaan kesehatan, para medis. Perkuat di situ aja. Kita tetap jalankan roda ekonomi,” ujar Hariyadi.

Karena itulah, imbau dia, para pengusaha harus bertindak realistis. Meskipun situasi masih pandemi, harus sudah mulai membiasakan diri memutar perekonomian dengan tetap waspada.

“Enggak mungkin begini saja terus. Di situasi begini. Sudah di PSBB, mau diapain juga sulit. Masyarakat juga kedisiplinannya kurang, pengetahuannya mengenai virus corona juga terbatas. Macam-macamlah,” katanya.

Hariadi menegaskan, sulit menjalankan roda ekonomi dalam situasi sekarang yang masih berstatus PSBB. “Enggak mungkin aktivitas ekonomi tidak kita jalankan. Itu sekarang berhenti. Dari segi kenaikan orang terpapar virus corona juga naik. Secara kondisi ekonominya juga jeblok,” cetusnya.

Bahkan upaya pemerintah dengan memberikan bantuan dan insentif sebanyak apapun, tidak akan ada gunanya. “Kita mau tetap jalan. Mau stimulus berapa pun, sebanyak apapun, bahkan mau cetak duit sekalipun, itu enggak ada artinya kalau ekonominya tidak jalan,” jelasnya.

Menurut dia, stimulus semata tidak akan cukup kalau roda ekonomi berhenti. 
“Kemampuan pemerintah dan negara seberapa sih? Saya bilang, kita harus realistis menghadapi situasi ini. Protokol kesehatan harus maksimal dijalankan, tetapi kegiatan ekonomi harus tetap dijalankan,” imbuh dia.

Saat ini posisi keuangan perusahaan saja sudah minus karena tak ada penghasilan. Karena itu, dia berharap, buruh dan masyarakat, termasuk pemerintah mesti sama-sama saling memahami. Terlalu banyak tuntutan di saat ini pun takkan banyak membantu. 

“Kalau cash flow perusahaan enggak ada, ya enggak bisa bikin apa-apa. Patokan itu sebetulnya cash flow. Apapun itu tergantung kesediaan dana yang dimiliki itu berapa. Selama pandemik ini berkurangnya sangat drastis. Cepat drop. Dan perusahaan sama sekali tidak ada penghasilan. Enggak ada pendapatan. Enggak ada penjualan. Itu sebenarnya yang paling berat,” bebernya.

Apindo sendiri, lanjut Haryandi, sedang mengajukan kepada pemerintah agar dilakukan test kesehatan atau rapid test untuk memastikan agar buruh bisa kembali bekerja. 

“Kurangi resiko maka kehati-hatian harus tetap optimal. Kita juga mengajukan adanya test kit, rapid test, untuk dibantu pemerintah, kita usulkan. Jumlahnya itu besar. Kita minta, itu salah satu dukungan pemerintah kepada perusahaan. Rapid test, minimal dua kali. Mohon dibantu,” pintanya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar