>

Spirit Gotong Royong di Era Pandemi

  Rabu, 13 Mei 2020   Editor
Ilustrasi virus corona

Wabah COVID-19 yang menghantam sejak permulaan Maret yang lalu tak dimungkiri membawa begitu banyak dampak negatif bagi bangsa Indonesia. 

Banyak korban jiwa yang berjatuhan, hilangnya rasa aman masyarakat dalam melakukan aktivitas sosial, hingga kerugian finansial yang ditanggung oleh berbagai aktor ekonomi, mulai dari negara, perusahaan, hingga sektor rumah tangga. Namun demikian, seperti jamaknya fenomena sosial dalam masyarakat, wabah atau bencana apapun masih menyisakan sisi positif.

Wabah COVID-19 yang hingga kini belum ditemukan penawarnya menjelma menjadi musuh bersama yang harus ditanggulangi secara bersama-sama pula. Wabah COVID-19 juga menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk menebalkan semangat gotong royong dan persatuan.

Pasca meraih kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 yang silam, bangsa Indonesia seolah kehilangan elan vital untuk menyulam kekompakan. Begitu banyak realitas empirik yang dapat meneguhkan argumentasi ini. 

Perhelatan Pilpres 2019 yang lalu misalnya, alih-alih menjadi ajang pesta demokrasi rakyat yang menyuguhkan suasana suka cita, justru menjelma menjadi ajang maraknya kampanye hitam, perluasan fitnah dan kabar bohong, hingga pembelahan sosial di masyarakat.

 Pada dimensi sosial kemasyarakatan, masih jamak kita temui perilaku intoleran berbasis agama dan primordial yang dilakukan oleh kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas yang melemahkan semangat persatuan dalam keberagaman. Masih jamak juga dijumpai perilaku para elit politik yang mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompoknya, alih-alih mengabdi bagi kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara. Muncul ketidakpercayaan dari masyarakat terhadap elit dalam mengelola negara.

Merujuk kondisi tersebut, akan sulit untuk meningkatkan level persatuan dan spirit gotong royong. Dalam pemahaman Bung Karno yang menggagas Pancasila, dibutuhkan orientasi nasionalisme, mentalitas masyarakat altruis, dan pemahaman religius yang baik guna mewujudkan gotong royong dan persatuan dalam masyarakat. Ketiga hal tersebut terejawantah dengan baik pada masa revolusi fisik. 

Ada simpul kebangsaan dalam perlawanan melawan penjajah, ada semangat senasib sepenanggungan, serta keyakinan bahwa Tuhan Yang Maha Esa yang akan menuntun ikhtiar perlawanan menuju pintu gerbang kemerdekaan. Namun demikian, ketiga komponen tersebut tak dijumpai dalam perilaku hidup kebangsaan hari ini. Gotong royong menjadi barang langka karena tercemar pemikiran kapitalis yang berorientasi pada modal dan kekuasaan. Persatuan terkontaminasi oleh spirit individualisme untuk menumpuk harta kekayaan sendiri. 

Gotong royong dan persatuan babak belur karena tereduksinya pemahaman keagamaan masyarakat.

Di berbagai diskusi dan dialektika akademik, sempat muncul ide atau gagasan dari para intelektual politik untuk menelurkan musuh bersama (common enemy) bagi bangsa ini. Ada banyak hal yang coba dikedepankan seperti korupsi yang dianggap sebagai biang dari segala biang kemiskinan dan ketidakadilan dalam masyarakat, terorisme dan radikalisme yang juga telah menjadi isu dan perhatian masyarakat global, hingga pemikiran bahwa Indonesia sejatinya masih berada pada ruang kolonialisme dan imperialisme, namun dalam dimensi yang lebih kompleks dan mutakhir, serta musuh yang sulit dipetakan (perang asimetris). 

Namun demikian, beberapa faktor tersebut tetap saja sulit untuk menyulam gotong royong dan persatuan masyarakat. Masyarakat membutuhkan musuh bersama secara fisik, yang bisa mereka lihat dengan mata telanjang, serta mengusik rasa aman mereka. Korupsi misalnya, sulit dikedepankan sebagai musuh bersama, karena ada bagian dari masyarakat itu sendiri yang justru mempraktikannya untuk kepentingan sepihak, dan ini terjadi secara massif. 

Pagebluk COVID-19 yang mulai menghantam Indonesia di awal Maret lalu merupakan sebuah katastrofi yang tidak pernah diprediksikan sebelumnya. Wabah ini menghantam bangsa Indonesia tanpa pandang bulu. Ia datang dan menerjang dengan tak peduli pada apapun kelas sosial, budaya, dan politik masyarakat. Tengok saja nama-nama penderita COVID-19 di tanah air, mulai dari masyarakat awam, artis, hingga menteri negara dapat menjadi korbannya, tanpa kecuali. 

Eksistensi wabah ini juga telah merenggut perasaan aman masyarakat. Bayangkan saja, aktivitas sosial masyarakat seperti berkomunikasi, bekerja, berdagang, hingga beribadah, harus dibatasi secara ketat. Lebih jauh dari itu, wabah ini juga semakin merenggut rasa aman masyarakat karena kehilangan mata pencaharian hidupnya, disebabkan perusahaan tempat bekerja melalukan pemutusan hubungan kerja. Mereka yang berstatus sebagai kepala keluarga kehilangan rasa amannya dalam memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan keluarganya.

Situasi tersebut perlahan tapi pasti menjadi faktor pendorong yang menguatkan spirit gotong royong dan persatuan di masyarakat. Berbagai kelompok masyarakat menengah ke atas yang tergugah kepeduliannya beramai-ramai menggalang aksi solidaritas untuk membantu saudara mereka yang kesulitan ekonomi karena kehilangan mata pencaharian dan pendapatannya akibat pandemi COVID-19. Meskipun ada program resmi pemerintah melalui stimulus fiskal sekian triliun, namun tak mengurangi semangat mereka untuk terus berdonasi. 

Aksi-aksi solidaritas bernuansa gotong royong dan persatuan ini tak melulu pada hal yang sifatnya finansial. Kalangan pers misalnya, begitu menyadari bahwa rasa aman masyarakat sangat terganggu selama wabah ini. Mereka sejatinya terjebak pada dilema antara mengabarkan berita secara faktual apa adanya, namun dengan risiko menambah kekhawatiran masyarakat, atau mengabarkan berita dengan sangat selektif dalam konteks menumbuhkan optimisme dan resiliensi masyarakat.

Pada akhirnya, kebutuhan dan kepentingan bersamalah yang harus diutamakan. Perlahan tapi pasti, apabila kita cermati dengan baik, pers mulai berupaya menghadirkan pemberitaan yang tidak menambah rasa khawatir masyarakat, melainkan hembusan optimisme bahwa wabah ini akan segera berakhir dalam waktu cepat. 

Spirit gotong royong juga mulai terasa dalam kebijakan pemerintah. Jika pada awalnya aroma disharmonisasi begitu kentara antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam penanganan pandemi, perlahan tapi pasti, mereka mulai bergerak secara seirama dalam memandang dan merespons dampak COVID-19, baik melalui kebijakan pembatasan fisik, maupun Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). 

Pemerintah mulai mengendorkan egonya masing-masing begitu menyadari bahwa kepentingan masyarakat adalah yang pertama dan utama. Di situlah esensi jabatan dan keberadaan mereka.

Pemerintah seyogianya tak selalu memandang negatif situasi hari ini. Sambil terus berikhtiar melakukan pencegahan perluasan wabah, serta upaya menemukan penawar dari penyakit ini melalui riset mandiri dan kerja sama internasional, pemerintah dapat menjadikan momen ini sebagai momentum untuk menguatkan spirit gotong royong dan persatuan dalam masyarakat. 

Perang total melawan COVID-19 tak harus melulu ditempuh melalui ‘perang fisik’ dengan mengerahkan gugus tugas penanganan COVID-19 di semua lini saja, tapi pemerintah juga dituntut bertindak secara jeli melalui kerja sama strategis dengan masyarakat sipil, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama, untuk melakukan diseminasi nilai-nilai kebangsaan yang bertumpu pada pemahaman akan gotong royong dan persatuan di tengah wabah. Hal ini dapat memperkuat kinerja kelembagaan pemerintah yang mengampu tugas yang sama. 

Sekali lagi, pandemi COVID-19 harus dijadikan momentum untuk menggalang persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan semangat gotong royong, wabah ini nisacaya akan bisa ditanggulangi. Semoga.


Boy Anugerah
Tenaga Ahli di MPR RI/Mahasiswa Pascasarjana Studi Kepemerintahan dan Kebijakan Publik di SGPP Indonesia (pendapat pribadi)


 

  

 


 

 

 

 

 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar