>

Nasib Pemulung di Masa Pandemi, Jual Rongsokan di Pengepul Drop Hingga Rp 500 per Kilo

  Rabu, 13 Mei 2020   Editor
Salah satu Manusia Pembawa Karung di jalanan Protokol Semarang (ayosemarang.com/ Vedyana)

SEMARANGUTARA.AYOJAKARTA.COM -- Virus corona yang tengah mewabah saat ini tak menyurut langkah para pemulung di kota Semarang berkeliling mencari rongsokan. Meski perolehan hasil memulung sampah plastik dan barang lain terbilang sangat minim. 

Di bulan Ramadan ini, mereka agak terbantu lantaran banyak masyarakat yang memberikan bantuan dalam bentuk uang maupun sembako.

Pemulung atau manusia karung masih banyak ditemui seperti di sekitaran jalur protokol Semarang. Salah satunya, Yati (57) yang tengah duduk selonjoran di salah satu trotoar jalan. 

Sesekali pandangan matanya ke arah lalu lalang kendaraan yang melintas. "Sedang istirahat saja mas. Habis zuhur biasanya saya pulang buat nimbang semua barang yang didapat hari ini," ucap Yati kepada Ayosemarang, Rabu (13/5/2020).

Sejak pagi ia sudah berkeliling mencari barang rongsokan seperti botol plastik atau barang pecah belah. Namun rupanya tak banyak. 

"Sulit sekarang cari barang bakas. Paling sehari dapat 5-10 kg. Itu juga kadang warga sini ada yang ke sini ngasih barang rogsoknya kepada saya. Walaupun ndak mesti setiap hari ada," tutur perempuan perantauan yang sudah enam tahun di Semarang ini. 

Bukan hanya itu yang dikeluhkan Yati. Harga jual barang bekas per kilo di pengepul juga turun drastis dari biasanya. Sebelum pandemi, ia bisa menjual sampai Rp 2 ribu per kilonya. 

"Sekarang Rp 500 mas. Kalau sehari dapat 10 kg ya paling dapatnya Rp 5 ribu. Itu hasil seharian ngumpulin. Padahal sebelum ini harganya bisa sampai Rp 2 ribu per kilo. Ndak tahu kenapa hargane turun," katanya.

Yati merasa gundah karena dengan pendapatan segitu, ia harus bisa mencukupi kebutuhannya. Namun, di saat bulan Ramadan ini, setidaknya ia bisa bernafas lega karena uluran bantuan dari orang.  

"Kalau pas puasa gini, banyak yang ngasih uang, kalau ndak beras. Bisa sedikit terbantu. Jadi ada sedikit uang untuk membeli kebutuhan lainnya," ucapnya.

Ditanya terkait lebaran, Yati pasrah tak bisa mudik untuk merayakan bersama keluarga di kampung halamannya, Jogja. 

"Ya pengennya pulang mas. Bisa lebaran di rumah. Tapi katanya ndak boleh dulu, ya udah pasrah aja," terangnya.

Sama seperti Yati, pemulung lainnya Poni juga mengalami kesulitan untuk barang bekas. Pandemi COVID-19 menyebabkan beberapa akses jalan di perkampungan ditutup. Jika ada hanya botol plastik air mineral yang ditimbang kadang tak sampai sekilo. 

Padahal botol plastik yang dikumpulkannya tersebut bisa terjual Rp 10 ribu per kilo.

"Hanya bisa pasrah mas. Mau bagaimana lagi, hanya mencari rongsok yang saya bisa lakukan. Dapat berapa pun pasrah aja," ujarnya.

Poni mengaku sebelumnya bekerja serabutan. Namun karena usia, dia beralih menjadi manusia karung mencari botol plastik dan barang bekas lainnya untuk dijual. "Saya di Semarang sudah dari 2012," ungkap pria asal Cilacap tersebut.

Ia pun mengaku dapat berkah selama bulan Ramadan ini. "Ya kadang pas cari botol ada orang yang ngasih makanan kalau ndak uang. Banyak kalau pas bulan puasa gini," terangnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar