Ketahui Cara Kerja Imun Tubuh Ketika Diserang Virus Corona

  Selasa, 19 Mei 2020   Widya Victoria
Ilustasi virus corona. (pinterest/freepik)

AYOJAKARTA.COM -- Pandemi COVID-19 masih berlangsung dan kita harus tetap waspada. 

Masihkah Anda menjalankan protokol pencegahan penularan virus ini? Seperti, menjaga jarak, rajin mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, menggunakan masker double, membilas tangan dengan hand sanitizer saat di luar rumah, segera mandi usai berpergian, dan membersihkan peralatan yang kita bawa dan kendaraan yang digunakan.

Section Head of Claim Sequis  dr. Yosef Fransiscus mengingatkan, sangat penting untuk mematuhi protokol ini jika serius ingin memutuskan rantai penularan virus di sekitar dan Indonesia.  

“Istilah di rumah saja saat ini sedang populer. Ini baik untuk kita sosialisasikan pada anggota keluarga karena jika kita tidak bepergian akan lebih kecil kemungkinan terkena risiko tertular dan tentunya tidak menambah jumlah korban yang positif terpapar. Siapapun kita dapat menjadi pembawa virus atau tertular virus," tutur Yosef.

"Demi kebaikan bersama mari kita menjadi masyarakat yang responsif dan tertib karena virus ini mampu menular dengan cepat,” imbaunya.

Virus COVID-19 menyerang saluran pernafasan dan melemahkan sistem imun. Untuk itu, kita harus memastikan imunitas tetap terjaga. Apalagi, imunitas setiap orang berbeda kemampuannya, tergantung pada usia, riwayat hidup, dan gaya hidup.  

Lebih lanjut dokter Yosef menjelaskan, imun dihasilkan oleh kelenjar thymus sebagai daya tahan tubuh alami yang bertugas melawan penyakit. Lalu, bagaimana cara kerja sistem imun saat virus ini menyerang? 

Sebagaimana tubuh selama ini menghadapi serangan berbagai virus, yaitu pada saat tubuh terinfeksi akan mengeluarkan pertahanan kekebalan bawaan.

Pada respons awal, jika tubuh kita kuat akan memungkinkan untuk mengendalikan infeksi dengan cepat. Pada kondisi ini, terjadi pelepasan protein interferon untuk mengganggu kemampuan virus agar tidak bereplikasi dalam sel-sel tubuh. 

Interferon juga akan merekrut sel-sel kekebalan lain untuk menyerang virus agar tidak menyebar. Misalnya, sel darah putih. 

Saat tubuh terserang oleh gas beracun atau radikal bebas maka akan ditangkap oleh kolestrol yang berperan sebagai pelindung sel. Meskipun demikian, virus juga memiliki pertahanannya sendiri untuk menumpulkan atau melepaskan diri dari efek interferon.

Seperti apa respon imun bawaan saat terinfeksi virus? 

Bisa terlihat dari gejala klinis yang dialami ketika kita sakit, misalnya demam, batuk kering, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat, malaise (rasa pegal dan tidak nyaman), sakit kepala, nyeri otot, atau diare. Gejala-gejala tersebut merupakan manifestasi dari sistem imun bawaan sedang berupaya menyingkirkan virus. 

Sedangkan bagi penderita usia lanjut dan yang memiliki gangguan kekebalan tubuh (immunocompromised) terkadang gejala dan tandanya tidak khas. Bagi mereka yang memiliki riwayat sakit, misalnya pada penderita Diabetes Melitus, imun akan tergantung pada tingkat sakit sehingga pasien harus selalu mengontrol gula darah dan mengikuti petunjuk dokter. 

Perokok, juga menjadi orang yang masuk dalam kategori rentan, imun mereka cenderung rendah karena keracunan radikal bebas terus menerus.

Jika paparan virus sudah menginfeksi maka kekebalan tubuh akan fokus menangani virus dan kehabisan pasukan bila ada serangan ke-2 misalnya pneumonia. Itu sebabnya, kematian akibat corona kebanyakan akibat serangan ke-2 karena tubuh sudah kekurangan pasukan imun yang masih berperang melawan corona. 

“Bisa kita katakan corona adalah pasukan pendobrak pertahanan untuk membuka kesempatan bagi virus dan kuman lainnya untuk melumpuhkan tubuh kita. Hal ini yang menyebabkan setelah infeksi pneumonia penderita akan merasa kesulitan bernapas,” imbuh dr.Yosef.

Mengingat sifat imun tidak stabil atau bisa naik atau turun sehingga kita perlu menjaganya dengan menggiatkan gaya hidup bersih dan sehat serta menambah asupan vitamin C, D, dan E dan dibarengi dengan vitamin K2 yang takarannya sesuai kebutuhan tubuh dan anjuran dokter karena asupan vitaminnya untuk menjaga sistem pertahanan tubuh.

Setiap hari tubuh kita harus melawan miliaran virus dan kuman yang masuk lewat udara, makanan, atau infeksi. Itu sebabnya, para ahli kesehatan dan gizi selalu menyarankan pola hidup bersih dan sehat pada pasiennya. Bahkan sebaiknya dilakukan bukan saat masa pemulihan saja, tetapi saat tubuh sehat dan sejak usia masih produktif. 

"Caranya, konsumsi makanan bergizi, berpikir positif, cukup beristirahat, rajin berolahraga, dan berjemur matahari pagi minimal selama 15 menit, tidak merokok dan mengonsumsi alkohol serta biasakan mencuci tangan dengan sabun di air mengalir,” urainya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar