Terkait Pelarungan Jasad ABK di Kapal Tiongkok, Polda Jateng Tangkap 2 Warga Tegal

  Kamis, 21 Mei 2020   Budi Cahyono
Konfrensi Pers Polda Jateng terkait kasus TPPO (dok)

SEMARANG, AYOJAKARTA.COM -- Jajaran Polda Jateng membekuk dua tersangka yang diduga melakukan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) anak buah kapal (ABK) asal Indonesia yang tewas dan jenazahnya dilarung ke perairan Somalia, belum lama ini.

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Iskandar Fitriana Sutisna mengatakan, perekrutan dan menempatkan ABK melalui PT Mandiri Tunggal Bahari tidak mempunyai Surat Izin Perekrutan Pekerja migran Indonesia (SIP2MI) yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Penempatan Pekerja Migran Indonesia.

"Perusahannya sendiri ada, cuman untuk perizinan dalam merekrut dan mempekerjakan di luar negeri yang tidak sesuai SOP," ujarnya, Rabu (20/5/2020).

AYO BACA : GP Ansor Kutuk Pelarungan 3 ABK Kapal China di Laut Lepas: Ini Tindakan Biadab!

Adapun dua tersangka yang diamankan yakni, S (45) yang merupakan Komisaris, MH (54) sebagai Direktur perusahaan. Beberapa dokumen dan sejumlah CPU diamankan petugas sebagai barang bukti.

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Jateng, Kombes Pol Budi Haryanto, menambahkan, perusahaan asal Tegal itu telah memberangkatkan ABK untuk bekerja di kapal berbendera Tiongkok, Lu Qing Yuan Yu 623 dan Fu Yuan Yu 1218.

Di mana pada 16 Januari 2020 lalu, Herdianto salah satu ABK asal Indonesia untuk salah satu kapal asing tersebut meninggal dunia karena sakit dan jenazahnya dilarung ke perairan Somalia.

AYO BACA : Viral, Video Jasad WNI ABK Longxing Dibuang ke Laut

Selain memberangkatkan Herdianto, PT Mandiri Tunggal Bahari juga diketahui memberangkatkan ABK bernama Taufik Ubaidilah.

"Kasus yang sama pun dialami Taufik. Ia meninggal dunia karena jatuh dari palka, 23 November 2019 dan jenazahanya juga dibuang ke laut," katanya.

Selain melarung jenazah ABK asal Indonesia ke laut, Kapal Fu Yuan Yu 1218 juga diketahui membawa enam ABK lain asal Indonesia. Enam ABK itu diketahui melompat ke laut di mana empat orang berhasil diselamatkan kapal Malaysia, sedang dua orang lainnya masih belum ditemukan.

"Kedua tersangka akan dijerat dengan UU No.18/2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia dan UU No.21/2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Ancaman hukumannya yakni penjara 5-15 tahun dan denda maksimal Rp15 miliar," imbuhnya. (Vedyana Ardyansah)

AYO BACA : ABK WNI Meninggal di Kapal China, Ketua MPR: Cara Kerja Kemlu Sangat Mengecewakan!

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar