>

Bima Arya Sebut 5 Ujian dalam Menghadapi Pandemi COVID-19, Ini Penjelasan Lengkapnya

  Senin, 25 Mei 2020   Husnul Khatimah
Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto. (Ayobogor.com)

BOGOR TENGAH, AYOJAKARTA.COM -- Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto, menyebut pandemi COVID-19 bukan hanya ujian kesehatan tapi juga bagian dari ujian keimanan.

“Ini merupakan masa-masa yang sangat sulit bagi kita semua. Masa-masa yang penuh dengan cobaan. Ada lima ujian yang kita hadapi hari ini,” ungkap Bima Arya.

Lima ujian yang dimaksud Bima adalah ujian untuk memahami tujuan dari Allah SWT, ujian kesiapan, ujian kesabaran, ujian ketauhidan dan ujian berbaik sangka kepada Allah SWT.

“Yang pertama adalah ujian untuk memahami tujuan dari Allah SWT. Tafsir kita menentukan langkah kita. Pemahaman kita menentukan gerak kita. Persepsi kita terhadap ujian ini menentukan hidup kita ke depannya. Mengapa kita harus mengalami ini? Mengapa di Kota Bogor harus ada 110 orang yang positif sampai hari ini? Mengapa wali kotanya menjadi pasien COVID-19 positif nomor satu di kota ini?" ujarnya.

Ibarat dalam satu pekerjaan, lanjut Bima, setiap anggota harus tahu ke mana tujuannya. Kalau ada anggota yang tidak paham tujuan, maka tim itu tidak akan bisa mencapai apa yang ditargetkan.

“Insya Allah di Kota Bogor juga begitu. Kalau semuanya paham, kalau semuanya bisa menangkap pesan dari Allah SWT, Insya Allah kita bisa menghadapi ini bersama-sama. Seperti dalam firman Allah dalam surat Al-An’am ayat 42 yang berbunyi 'Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon kepada Allah dengan tunduk dan merendahkan diri',” jelas Bima.

Menurutnya, pandemi ini bukan hanya ujian kesehatan, tetapi juga merupakan ujian keimanan. 

“Bukan yang paling kuat yang akan menang. Juga bukan yang paling sehat yang akan bertahan. Dan jelas bukan yang paling kaya yang akan terus ada. Tetapi yang paling beriman InsyaAllah yang akan bisa memetik hikmahnya,” ujar Bima.

Ujian yang kedua, kata Bima, adalah ujian kesiapan semua orang. Kesiapan untuk melihat dalam jangka panjang. Seperti yang difirmankan Allah dalam Surat Al-Ashr ayat 18 yang berbunyi: "Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan."

“Rencana-rencana kita bukan saja rencana duniawi tetapi rencana ukhrowi. Sejauh mana kita semua sesungguhnya mempersiapkan ketika ujung itu tiba. Bukan bagaimana nanti, tetapi nanti bagaimana. Setiap manusia harus persiapkan hari esok. Waktu terasa sangat pendek. Waktu tidak akan pernah bisa kita kuasai dan kendalikan. Ketika saatnya kita ditimpa musibah, menjalani cobaan sebagai orang yang sakit, waktu itu terasa sangat relatif,” tambah dia.

Ujian ketiga, adalah ujian kesabaran. Bima mengajak menjalani semua takdir dan ketentuan-Nya dengan penuh kesabaran.

“Memang tidak akan mudah untuk menahan sabar. Karena menjadi sabar bukan hanya menahan amarah. Sabar adalah siap dan ikhlas untuk menjalani semua ketentuannya dengan seluruh dinamikanya. Tetapi Allah SWT mengingatkan kepada kita semua bahwa sabar ada ilmunya," ujar Bima. 

"Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Kahfi ayat 68 yang berbunyi 'Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" terangnya.

'Menurut Bima, bagi orang-orang yang ilmunya dangkal, bagi orang-orang yang malas untuk belajar, semua akan sulit menjadi sabar. 

"Tapi kalau kita pelajari semua ilmunya, kalau kita lihat semua anatominya, COVID-19 ini Insya Allah bisa kita hadapi, bisa kita perangi bersama-sama,” tambah Bima.

Ujian keempat adalah ujian ketauhidan. Ujian ini membuat semua orang semakin yakin tentang keesaan Allah SWT. Menurutnya, masih banyak yang tidak diketahui tentang COVID-19. Siapa yang bisa tertular dan bagaimana tertularnya adalah misteri. 

"Ketika saya dirawat di RSUD saya bertanya kepada dokter, ‘Dok saya diobati apa?’. Lalu jawab dokter, ‘Bapak tahu, ini belum ada obatnya’. Jadi yang menyembuhkan itu bukan dokter. Yang menyembuhkan adalah Allah SWT. Dokter hanya berikhtiar untuk mengobati. Jadi, Insya Allah ini menyadarkan kepada kita untuk tidak bergantung kepada makhluk Allah,” jelasnya.

Ujian yang kelima adalah ujian agar semua manusia berbaik sangka kepada Allah SWT. Menurut dia, kalau manusi berprasangka baik kepada Allah maka semua orang akan menjalani segala sesuaty dengan lebih baik lagi.

“Mari kita yakini bahwa di depan ada normal baru yang Insya Allah barokah. Normal baru adalah nilai-nilai baru, keyakinan baru, iman baru, relasi sosial kita yang lebih baru. Keluarga kita yang betul-betul ada kebaruan dalam hubungan satu sama lain dan hubungan terhadap Allah SWT, Insya Allah,” tutup Bima.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar