--> -->

Sampai Pekan Depan Rupiah Diprediksi Masih Kuat

  Jumat, 29 Mei 2020   Fitria Rahmawati
ilustrasi rupiah/ shutterstock

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM - Direktur Trfx Garuda Berjangka, Ibrahim menyampaikan, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan menguat hingga pekan depan. Banyak faktor yang mendukung rupiah tetap berjaya, baik eksternal atau pun internal terhadap melemahnya indeks dolar AS.

Jika dilihat, hari ini Jumat (29/5/2020), nilai tukar rupiah ditutup menguat 105 point di level Rp 14.610 dari penutupan sebelumnya di level Rp 14.715. 

AYO BACA : Hari Ini, Rupiah Menguat di Level Rp14.733 per Dolar AS

Dalam perdagangan Senin pekan depan, ia memproyeksi kemungkinan masih akan bergolak. Walaupun di buka melemah tetapi ditutup kemungkinan menguat dengan kisaran Rp 14.520-Rp 14.480 per dolar AS

Faktor eksternal yang mempengaruhi diantaranya Presiden AS Donald Trump yang terus menyerang China dengan mengatakan virus corona berasal dari sebuah laboratorium di China. Trump meminta China untuk bertanggung jawab hingga Covid-19 menjadi pandemi global dan menuntut kompensasi atas kerusakan ekonomi AS.

AYO BACA : Intip, 4 Pekerjaan Online dengan Pendapatan Puluhan Juta Rupiah

Hubungan kedua negara kini semakin memburuk setelah AS kembali ikut campur urusan Hong Kong yang merupakan wilayah administratif China. Selain itu, di Eropa, seperti Portugal, Yunani, Spanyol, Italia, Belanda, Swedia dan Islandia bahkan sudah mewacanakan untuk membuka kembali industri pariwisatanya. Kemudian dari AS, untuk pertama kalinya kemarin para trader kembali melantai bursa saham New York pada Rabu waktu setempat, setelah tutup sejak 23 Maret lalu.

Dari sisi internal, penguatan rupiah didorong oleh era kehidupan baru atau the new normal yang sedang disiapkan oleh pemerintah guna untuk memutar kembali roda perekonomian yang sempat terhenti.

"Namun era kehidupan baru tersebut perlu ada pengawalan dari pemerintah agar sesuai regulasi sehingga pelaksanaan kegiatan nantinya benar-benar menuju tatanan baru atau yang kita kenal dengan new normal," kata Ibrahim.

Di sisi lain Bank Indonesia  dalam paparan perkembangan ekonomi terkini kemarin mengatakan sangat optimistis nilai tukar rupiah saat ini masih undervalue. Sedangkan fundamental ekonomi Tanah Air akan diukur dari inflasi yang rendah, defisit transaksi berjalan yang lebih rendah, aliran modal asing yang masuk ke SBN akan terus meningkat sehingga memperkuat dan memperkokoh rupiah. "Sehingga BI tidak perlu lagi menurunkan suku bunga acuan dalam pertemuan Juni mendatang," ucap Ibrahim.

AYO BACA : Naik Rp5.000, Harga Emas Antam Rp913.000 per Gram

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar