Abai Implementasi Pancasila, Elit-Elit Perlu Dihardik

  Selasa, 02 Juni 2020   Widya Victoria

 

TEBET, AYOJAKARTA.COM -- Indonesia selalu menghadapi tantangan-tantangannya sebagai negara berideologi Pancasila. Jika di era-era dahulu ada tantangan perbedaan suku dan ras, juga persoalan kewilayahan, kini Indonesia harus mampu melampaui tantangan munculnya sektarianisme berbalut agama.

Hal itu ditegaskan teolog dari Sekolah Tinggi Teologia Huria Kristen Batak Protestan (STT HKBP) Nommensen Pematangsiantar, Pdt Saut Hamonangan Sirait saat menjadi narasumber Webinar Serial Pancasila dalam rangka Hari Lahir Pancasila 1 Juni bertajuk "Seberapa Pancasilais Lo"pada Senin (1/6/2020). 

“Pancasila terus berkembang dan menghadapi persoalan-persoalan hingga saat ini. Jika sebelum-sebelumnya Indonesia sudah mampu melewati persoalan perbedaan suku dan kewilayahan, kini yang sering muncul belakangan ini adalah adanya sektarianisme berbalut agama,” tutur Pdt Saut Hamonangan Sirait.

Mantan Komisioner KPU ini menyampaikan, untuk merawat dan mempertahankan Pancasila yang seringkali dibajak oleh kelompok atau elit-elit tertentu, maka para tokoh lintas agama dan lintas organisasi perlu menyemaikan nilai-nilai universal yang terkandung di dalam Pancasila itu secara bersama-sama dan simultan. Selain itu juga melakukan diskursus-diskursus publik yang berguna bagi penanaman nilai, pemahaman dan pengalaman tentang Pancasila dari setiap generasi ke generasi.

“Jangan terjebak dengan meributi tata cara orang beribadah, sudah ada norma-norma yang mengatur tata cara masing-masing agama dalam beribadah. Kini, semua agama hendaknya ngomongin Pancasila secara bersama-sama. Membangun ikatan kebersamaan sebagai anak-anak bangsa yang berdiri pada nilai-nilai universal yang juga terdapat pada masing-masing agama,” jelas Pdt Saut Hamonangan Sirait.

Ia melihat belakangan ini, agama-agama yang ada di Indonesia tumbuh menjadi industri. Agama juga seringkali ditempatkan pada getho-getho besar, tampil dengan segala cabang-cabangnya serta ditopang media. “Yang ujung-ujungnya juga dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan politik tertentu,” ujar mantan ketua umum DPP Partisipasi Kristen Indonesia (Parkindo) ini.

Menurut dia, ritual-ritual keagamaan itu hendaknya berkontekstualisasi yang baru, dengan mutual trust yang berkualitas. Maka itulah sangat diperlukan kerjasama yang bermutu. 

Jika ada oligarki ataupun elit yang mengkooptasi Pancasila kemudian dibenturkan secara sepihak dengan nilai-nilai agama, Pdt Saut Sirait menyerukan semua pihak layak perlu meluruskannya. “Elit-elit perlu disadarkan. Elit-elit perlu dihardik,” katanya.

Kemudian, lanjut dia, peran lembaga-lembaga harus nyata mengurusi hal-hal yang fundamental, yakni Pancasila. “Pancasila itu begitu indah, tanpa agenda ekonomis, tanpa agenda politis, tanpa kepentingan sempit,” ujarnya.

Pdt Saut Hamonangan Sirait yang semasa kuliah di Sekolah Tinggi Teologia Jakarta (STT Jakarta) menjadi aktivis mahasiswa dan Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Jakarta mengingatkan, Indonesia dihuni oleh orang-orang nasionalis dari semua lintas agama, lintas suku, golongan dan wilayah. Hanya saja, belakangan ini mungkin para kaum nasionalis itu tidak bertindak Pancasilais, sehingga terkesan Pancasila itu sendiri sedang mengalami aniaya.

“Jikalau kaum nasionalis tidak berbuat apa-apa, sementara kalau yang tidak tahu apa-apa tetapi berbuat sebanyak-banyaknya, ya jadi begitu,” tandasnya.

Dua pembicara lain dalam Webinar Pancasila The Series pertama ini yaitu  menghadirkan pengamat politik Moscow University Alexander Spinoza dan pengamat politik Guandong University, Panji Prasetyo

Webinar diisi hantaran dari Ketua Dewan Pimpinan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia Provinsi DKI Jakarta (DPD GAMKI DKI Jakarta) Jhon Roy P Siregar, dengan host Novia Adventy Juran yang merupakan founder Forum Pemuda Kalimantan Tengah (Forpeka). 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar