>

New Normal di Sekolah, Pengamat: Perlu Pertimbangan yang Matang

  Senin, 08 Juni 2020   Budi Cahyono
[Ilustrasi] Petugas menyemprotkan cairan disinfektan di Sekolah Menengah Kejuruaan Negeri (SMKN) 13 Bandung, Jalan Sukarno-Hatta, Kota Bandung, Rabu (18/3/2020). (Ayobandung.com/Kavin Faza)

SEMARANG, AYOJAKARTA.COM -- Penerapan new normal di Sekolah memerlukan pertimbangan yang matang. Beberapa hal harus diperhatikan, mengingat di setiap jenjang pendidikan memerlukan perhatian khusus.

Pengamat pendidikan, dari Universitas PGRI Semarang, Ngasbun Edgar mengatakan, penetapan zona wilayah salah satu hal yang harus dipertimbangkan.

AYO BACA : Sekolah Akan Dibuka, DKI Jakarta Pertimbangkan Ini!

"Mungkim untuk sekolah yang masuk zona hijau, artinya tak ada kasus corona di situ, bisa menerapkan new normal dengan protokol kesehatannya. Tapi untuk zona merah bahkan kuning , lebih baik jangan diterapkan new normal di sekolah tersebut," ujarnya, Senin (8/6/2020).

Untuk saat ini, menurutnya, jika penerapan new normal di Semarang masih akan sulit dilakukan. Beberapa hal pun masih menjadi kekhawatirannya.

AYO BACA : Pemprov DKI Pastikan Panduan PPDB Belum Dirilis

"Contohnya, pemahaman memakai masker saja, ada lho di Semarang, masyarakat yang masih enggan pakai masker di tempat umum. Ini kan menjadi perhatian juga, kita khawatir kalau anak-anak ini ibaratnya dilepas, kalau tidak ada pemahaman yang baik tentu malah membahayakan," imbuhnya.

Selain itu, penerapan new normal di Sekolah juga akan malah menambah tugas seorang guru di sekolah. Yakni mengawasi penuh penerapan new normal di wilayah sekolah tersebut.

"Misalnya di tingkat sekolah tertentu, kekhawatiran lain saya adalah, akan ada siswa yang lalai atau malah cuek untuk mengikuti tata tertib yang ada di saat new normal. Inikan malah membuat pekerjaan guru akan lebih berat lagi untuk pengawasannya," katanya.

Selain itu, standarisasi pendidikan juga menjadi perhatiannya pada sekolah yang sudah mampu menerapkan new normal dan masih ada sekolah yang masih menerapkan belajar di rumah.

"Maka penjaminan mutu proses pembejalaran yang di pertemuan konvensional dan yang daring harus beda. Meski kompetensi yang dicapai sama, maka bagi siswa yang sudah belajar di sekolah dan yang masih belajar daring harus ada cara-cara khsususnya," ungkapnya. (Vedyana)

AYO BACA : Orang Tua Murid: Jangan Suruh Anak-anak Bersahabat dengan Virus Corona

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar