Diplomat KBRI Aji Surya Meluncurkan Novel Tentang COVID-19 dari Kairo

  Minggu, 14 Juni 2020   Widya Victoria
Ahmad Mina dan M. Aji Surya di Kairo, Mesir (dok M. Aji Surya)

TEBET, AYOJAKARTA.COM -- Ketika banyak orang mulai sebal dengan keadaan akibat merebaknya Corona, diam-diam M. Aji Surya dan Ahmad Mina justru asyik menulis. Hasilnya, sungguh mencengangkan: 

Sebuah novel berjudul Lockdown: Asa, Cinta dan Zahira karya meluncur Sabtu (13/6/2020) lalu dari ibukota Mesir, Kairo.

Novel buah karya M. Aji Surya dan Ahmad Mina yang dikebut selama dua bulan ini memberikan gambaran tentang pentingnya manusia untuk tetap tegar dalam menghadapi cobaan dan penderitaan hidup. Sebagai makhluk terbaik ciptaan Tuhan, manusia memiliki kemampuan untuk mengelak, menyiasati, dan memenangkan pertarungan melawan keadaan melalui daya inovasi, kreasi, dan fleksibilitasnya.

Berlatar belakang sebuah negeri di Arab, penulis menuturkan tentang beratnya negeri Bahir yang diterjang pandemi COVID-19. Sama seperti di Indonesia, semua serba tidak mudah. Namun, karena pemimpinnya memiliki sebuah leadership yang kuat dan intelektualitas memadai, selalu ada jalan keluar dari kemelut yang menyelimuti negeri.

Pada saat yang sama, Bondowoso, perusahaan konsultan keuangan Indonesia yang bermarkas di ibukota Bahir, Zahira, juga mengalami hal serupa. Bagas, sebagai pimpinan perusahaan harus pandai-pandai mengurus usaha, mengatur hubungan antarpegawai hingga urusan cinta yang terjadi di kantor sebagai residu mengamuknya virus Corona.

“Wajar saja kita ini panik, namun tidak boleh kehabisan asa. Mari saling menjaga agar asa tetap mengalir dalam darah kita setiap waktu,” ujar Aji Surya dalam acara peluncuran secara daring, sebagaimana pers rilis yang diterima Ayojakarta.com, Sabtu (13/6/2020) malam.

Aji Surya menekankan bahwa hasil dari novel ini akan disumbangkan kepada korban COVID-19.

"Tawakkal harus diletakkan di posisi terakhir, setelah segala daya dan ikhtiar dimaksimalkan,” kata Mina menambahkan.

Menurut Ahmad Fuadi, novelis kenamaan Indonesia, novel merupakan karya yang mencerminkan realitas kehidupan yang dipadu dengan imaginasi penulis yang tersusun dalam bingkai yang rapi. Dalam perspektif tersebut, kedua penulis bisa dikatakan berhasil mencuri start penulis-penulis lain dalam menggambarkan peperangan bharata yudha antara manusia melawan virus Corona. 

Dengan latar belakang negara Arab, maka pembaca juga bisa memahami bahwa semua bangsa saat ini sedang berjuang sehingga kerja sama menjadi kunci kemenangan.

"Saya bisa merasakan semangat kedua penulis untuk mencoba menghidupkan suasana batin ke dalam sebuah novel yang gurih dan mencerahkan. Inilah karya yang dibutuhkan banyak orang,” ujarnya.

Sisi lain yang menjadi perhatian Ahmad Fuadi sebagai pembedah novel ini adalah kejelian penulis untuk menerbitkan karyanya dalam bentuk e-book. Selain hal ini akan menjadi trend global, rupanya royalty yang akan dihasilkan juga jauh lebih besar ketimbang penerbitan sejenis dalam bentuk cetak. 

“Penerbitan ini sangat efisien dan memangkas banyak ongkos produksi seperti kertas, distribusi, dan lainnya. Semoga hasilnya banyak karena telah diniatkan untuk membantu korban Corona,” imbuhnya.

Selain itu Ahmad Fuadi juga berkomentar bahwa semua proses yang dilakukan kedua penulis secara daring, dari mulai penerbitan buku hingga launching, merupakan suatu lompatan baru yang dapat menjadi salah satu solusi atas problem yang dihadapi banyak penulis saat ini di situasi pandemi. 

Sementara itu, pakar sastra dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Ali Imron Al-Ma’ruf, sebagai komentator novel, menyatakan bahwa latar cerita (setting) yang ditulis dalam novel tersebut mencerminkan kekalutan yang ada di sebagian masyarakat Arab dibumbui kisah cinta yang memukau. Maklumlah, sang profesor sendiri sempat tinggal kisaran enam bulan di Mesir hingga akhirnya harus pulang ke Indonesia di tengah merebaknya virus Corona.

“Ibarat nasi liwet, novel ini bisa dibilang masih sangat hangat, bahkan panas dan sangat mungkin menjadi karya pertama yang mengangkat kisah seputar virus Corona. Keadaan di sana benar-benar sangat sulit dan kompleks, tidak kalah serunya dengan perang Arab-Israel. Karenanya, novel ini bisa dikatakan kontekstual dan menarik bagi kalangan yang ingin tahu kondisi masyarakat di negeri gurun,” katanya dengan serius.

“Novel ini termasuk ke dalam jenis novel literer. Karya sastra yang memuat pesan moral dan semangat penulis. Kebalikannya dari jenis populer yang semata-mata hanya untuk menghibur pembaca,” ujar Prof Ali ketika ditanya oleh salah satu pemirsa launching mengenai genre novel LACZ.

Prof Ali juga memberi catatan pentingnya menambah aspek ironi dalam cerita. Dan akan jauh lebih bagus apabila diperbanyak aspek majas dan pribahasa.

“Saya menunggu karya selanjutnya yang lebih berani dalam berimajinasi dan mengeksplor suasana,” imbuh Prof Ali.

Pada saat launching, uniknya kedua penulis berada di Kairo, pembahas di Jakarta, sementara komentator di Solo, serta diikuti oleh banyak kalangan dari berbagai penjuru dunia. Novel Lockdown: Asa, Cinta dan Zahira atau dikenal dengan novel LACZ ini mulai bisa diunduh oleh pembaca sejak tanggal peluncurannya melaui Google Play. 

 

 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar