Pandemi Covid-19, Penjualan UMKM Cimahi Tersungkur Turun 90,9 %

  Selasa, 16 Juni 2020   Budi Cahyono
[Ilustrasi] UMKM beralih membuat masker di kala pandemi Covid-19. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

CIMAHI, AYOJAKARTA.COM -- Penjualan berbagai produk pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) serta koperasi di Kota Cimahi mengalami penurunan drastis hingga 90,9%. Turunnya penjualan sebagai akibat lumpuhnya ekonomi saat pandemi Coronavirus Disease (Covid-19).

Berdasar analisis online yang dilakukan Dinas Perdagangan Koperasi UMKM dan Perindustrian (Disdagkoperind) Kota Cimahi, terdapat 444 pelaku usaha dan 60 koperasi yang telah mengisi kuesioner.

Hasilnya, data mencatat  penjualan menurun 90,9%, produksi terhambat 35,6%, permodalan 51,2% dan distribusi terhambat 34% dirasakan pelaku UMKM.

Kepala Bidang Koperasi dan UMKM pada Disdagkoperind Kota Cimahi, Rina Mulyani mengungkapkan, dari hasil analisa sampel, semua lini usaha mikro, kecil hingga koperasi sangat terdampak dengan adanya wabah virus corona.

"Penjualan menurun, permodalan pesanan menurun, kesulitan bahan baku dan kredit macet," terang Rina saat ditemui, Selasa (16/6/2020).

Ia menerangkan, jumlah usaha mikro di Kota Cimahi ada 1.901, usaha kecil ada 1.872 dan koperasi ada 259. Jika melihat analisa sampel, semua usaha mendapat permasalahan serupa dalam kondisi sekarang ini.

"Kemudian yang dirasakan pelaku usaha itu kesulitan bahan baku dan distirbusi hingga beban arus kas," jelasnya.

Untuk saat ini, kata Rina, pihaknya belum bisa memulai melakukan pemulihan ekonomi baik di sektor mikro, usaha kecil hingga koperasi. Semua anggaran saat ini masih difokuskan untuk penanganan Covid-19 di Kota Cimahi, apalagi saat ini masih diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) parsial di Kota Cimahi. 

"Kondisi saat ini kita belum masuk ke mitigasi pemulihan ekonomi karena kan bagaimanapun situasi ekonomi belum bisa berputar," ungkap Rina.

Sejak dampak Covid-19 dirasakan para pelaku UMKM, klaim Rina, pihaknya mendorong mereka untuk melakukan penyesuaian usaha. Seperti dari usaha fashion dialihan sementara waktu ke usaha makanan cepat saji.

"Kedua bagaimana kita mendorong mereka untuk memanfaatkan penjualan online karena kan offline tutup," tuturnya. (Tri Junari)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar