>

Selain Reproduksi Virus, IDEAS Ungkap Indikator Lain untuk Hadapi New Normal

  Selasa, 16 Juni 2020   Khoirur Rozi
[ilustrasi] IDEAS menilai konsep new normal tidak cukup dengan mengandalkan reproduksi virus (Rt) suatu daerah sebagai tolok ukur utama. (dok Ayobandung.com)

CIPUTAT, AYOJAKARTA.COM -- Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) menilai konsep new normal tidak cukup dengan mengandalkan reproduksi virus (Rt) suatu daerah sebagai tolok ukur utama. Perlu ada indikator lain yang lebih tepat untuk menggambarkan keseiapan daerah memasuki era new normal.

Peneliti IDEAS, Fajri Azhari menerangkan, kapasitas pengujian yang rendah serta hasil yang sangat lama, dikombinasikan dengan kemampuan yang rendah dalam identifikasi kasus, membuat estimasi Rt menjadi bias dan cenderung overestimate. Oleh karena itu, menurutnya, ada tiga indikator lain untuk memggambarkan kesiapan daerah menghadapi era new normal.

“IDEAS mengidentifikasi tiga determinan risiko penyebaran Covid-19 Kabupaten-Kota, yaitu interaksi sosial, keterpaparan eksternal dan mobilitas penduduk,” kata Fajri dalam diskusi virtual yang diadakan IDEAS, Selasa (16/6/2020).

Fajri mengatakan determinan atau aktor penentu pertama adalah interaksi sosial yang berperan dalam penyebaran Covid-19. Menurutnya,  interaksi sosial mendorong intensitas kontak dan kedekatan fisik antar penduduk. Dia membagi interaksi sosial dengan dua variabel yaitu kepadatan penduduk dan ukuran populasi suatu wilayah.

Kepadatan penduduk tertinggi didominasi daerah perkotaan, terutama kota-kota besar di Jawa. Sedangkan ukuran populasi tertinggi di dominasi kota besar dan daerah pedesaan penyangga metropolitan, terutama di Pulau Jawa. 

“Dengan berakhirnya PSBB, menjadi tantangan besar untuk terus menjaga pembatasan sosial terutama di metropolitan utama Jawa yang kini merupakan episentrum wabah, demi melindungi lebih dari 150 juta penduduk Jawa,” jelasnya.

AYO BACA : Positif Covid-19 di Jakarta Bertambah 94 Kasus

Faktor penentu penyebaran wabah Covid-19 yang kedua adalah keterpaparan eksternal, yakni suatu daerah punya daya tarik yang mendatangkan mobilitas penduduk dari luar daerah tersebut. Mobilitas yang dimaksud bisa antardaerah dalam negeri atau lintas negara.

“Arus masuk pelancong dan pendatang yang tinggi, lintas daerah dan bahkan lintas negara, membuat suatu daerah rentan menjadi klaster penyebaran Covid-19. Kami membagi keterpaparan eksternal ini dengan 2 variabel yaitu ukuran sektor pariwisata dan kekayaan sumber daya alam (SDA),” ujar Fajri.

Daerah dengan ukuran sektor pariwisata yang besar, diukur dari pangsa tenaga kerja yang bekerja di sektor akomodasi dan penyediaan makan-minum, didominasi oleh daerah-daerah di destinasi wisata utama nasional, seperti Bali dan Yogyakarta. 

Serupa dengan daerah wisata, lanjutnya, daerah dengan kekayaan SDA yang berlimpah cenderung menarik investasi dari luar daerah dan karenanya tenaga kerja luar wilayah, bahkan menarik investasi dan tenaga kerja asing. Daerah kaya SDA ini didominasi oleh daerah sentra tambang migas dan batu bara seperti Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Papua. 

“Inilah sebab banyak daerah di luar Jawa meski memiliki kepadatan penduduk yang rendah, tetapi memiliki resiko penyebaran Covid-19 yang tinggi. Seperti kabupaten Mimika dimana PT Freeport berlokasi, tercatat menjadi episentrum wabah di Papua Barat. Kota Denpasar yang merupakan gerbang Bali sebagai destinasi wisata dunia, menjadi episentrum wabah di Bali,” tutur Fajri.

Faktor penentu penyebaran Covid-19 terakhir adalah mobilitas penduduk. Mobilitas penduduk baik yang dilakukan secara rutin maupun insidental dominan dipengaruhi oleh aktivitas bekerja. Mobilitas akibat motivasi ekonomi ini adalah sumber penyebaran Covid-19 yang signifikan terkait frekuensi dan jumlah pergerakan manusia.

AYO BACA : Jelang Dibuka Lagi, Wali Kota Puas Lihat Langsung Kesiapan Taman Impian Jaya Ancol

“Daerah dengan mobilitas penduduk yang sangat tinggi ini didominasi oleh kawasan aglomerasi, dimana kota inti menjadi pusat bisnis dengan daerah penyangga menjadi kawasan permukiman. Hal ini menjadi sumber utama tingginya jumlah perjalanan harian, seperti di Jabodetabek, Surabaya Raya, Bandung Raya dan Medan Raya,” ungkap Fajri.

Tiga Variabel

IDEAS membagi mobilitas penduduk ini dengan 3 variabel, yaitu penduduk yang bekerja di luar wilayah (asal komuter), penduduk daerah lain yang bekerja di dalam wilayah (tujuan komuter), dan penduduk yang bermigrasi ke daerah lain (asal diaspora). 

Misalnya, 472 ribu penduduk Kota Bekasi dan 462 ribu penduduk Kota Depok pulang dan pergi setiap hari untuk bekerja ke luar wilayah. Sementara itu, Jakarta Selatan setiap hari menjadi tujuan dari 777 ribu orang dari daerah lain yang bekerja di wilayah Jakarta Selatan. 

Peneliti IDEAS lainnya, Febbi Meidawati menyimpulkan dengan perbedaan tingkat risiko penyebaran Covid-19 antardaerah, maka menjadi penting untuk mendesain new normal yang berbeda antar daerah sesuai tingkat risiko penyebaran Covid-19. Semakin tinggi tingkat risiko penyebaran Covid-19 suatu daerah, semakin ketat protokol new normal yang harus diadopsi oleh daerah tersebut.

“Protokol new normal dasar untuk semua daerah meliputi mengenakan masker wajah dan face shield, kebiasaan mencuci tangan dan jaga jarak aman fisik. Protokol new normal untuk semua daerah lainnya adalah peningkatan kapasitas pengujian (testing) serta pelacakan dan karantina kontak erat kasus (tracing) secara masif,” kata Febbi dalam kesempatan yang sama. 

Dia menambahkan untuk daerah dengan tingkat resiko lebih tinggi, maka protokol new normal yang lebih ketat harus diberlakukan. Misal, untuk daerah dengan risiko tinggi seperti kawasan perkotaan, sekolah tetap harus diliburkan. Untuk kawasan aglomerasi metropolitan, terutama di Jawa, bahkan perkantoran dan pabrik pun tetap harus diliburkan (work from home). Protokol ini terus dilakukan hingga wabah benar-benar reda atau vaksin telah ditemukan. 

“Peran pemerintah daerah menjadi krusial untuk menetapkan tingkat resiko penyebaran Covid-19 ini. Dengan lebih memahami kondisi riil epidemiologi dan kapasitas sistem kesehatan daerah, pemerintah daerah dapat menentukan protokol new normal mana yang paling sesuai untuk daerah mereka. Jangan pernah bertaruh dengan keselamatan masyarakat,” imbuhnya.

AYO BACA : Wali Kota Jaktim Jamin Pengawasan Ketat Pasar-pasar Selama PSBB Transisi

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar