>

Minim Pengawasan, Protokol Kesehatan di Pasar Tradisional Jakarta Diabaikan

  Kamis, 18 Juni 2020   Khoirur Rozi
Suasana Pasar Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat, Kamis (18/6/2020). (Ayojakarta.com/Khoirur Rozi)

JEMBATAN LIMA, AYOJAKARTA.COM -- Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Eneng Malianasari sidak ke Pasar Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat, Kamis (18/6/2020). Eneng ingin memastikan pelaksanaan protokol kesehatan di pasar tersebut berjalan sesuai aturan.

Namun Eneng mendapati hal sebaliknya. Protokol kesehatan hampir tidak diterapkan di Pasar Jembatan Lima. Mayoritas pedagang tidak memakai masker seperti yang dianjurkan pemerintah. Tak hanya itu, ketentuan jaga jarak maupun mekanisme ganjil genap seperti yang sudah ditetapkan Pemprov DKI juga tidak berjalan.

AYO BACA : CFD Sudirman-Thamrin Dibuka Minggu Depan

“Belum ada sosialisasi ataupun pengawasan sehingga aturan protokol kesehatan hanya sekedar formalitas. Ini membuat gencarnya tes covid di pasar sia-sia karena penyebaran virus terus terjadi dan pasar akan jadi klaster baru di Jakarta,” kata Eneng kepada wartawan.

Temuan ini membuat politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini khawatir. Pasalnya, kasus positif di pasar tradisional Jakarta sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan catatannya, ada 87 pedagang pasar positif Covid-19 dari 3.013 orang yang telah diperiksa.

AYO BACA : 160 Pedagang Sunan Giri dan Sekitarnya Ikut Tes Swab

Lebih lanjut dia menuturkan, kasus positif pada pedagang pasar bakal terus bertambah lantaran masih ada 690 orang yang menunggu hasil laboratorium.

Di sisi lain, banyak pedagang yang menghindar untuk dilakukan pemeriksaan swab oleh Pemprov DKI Jakarta. Menurutnya, pedagang memilih untuk menghindar karena tidak ada kompensasi maupun bantuan yang diberikan bagi pedagang yang terbukti terkena virus Covid-19, padahal mereka harus karantina dan tidak bisa bekerja paling tidak selama 14 hari. 

“Pemprov dan PD Pasar Jaya harus mulai berkoordinasi dengan asosiasi, paguyuban pasar, kelompok-kelompok pedagang akan adanya insentif bagi pedagang yang patuh dan disinsentif bagi yang lalai pada aturan,” ujarnya.

Bagi pasar yang tingkat kepatuhannya tinggi, katanya, bisa diberikan fasilitas penangguhan, diskon BPP, potongan tarif kompensasi lahan yang lebih besar, hingga diberikan insentif non-finansial dalam bentuk kemudahan pengurusan izin.

“Sementara untuk pasar yang tidak patuh harus ditutup dan disegel untuk memberikan efek jera,” imbuhnya.

AYO BACA : 92 Pedagang di Pasar Johar Baru Jalani Swab Test

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar