Harian Disway, Pertaruhan Seorang Dahlan Iskan

  Rabu, 01 Juli 2020   Eries Adlin
Dahlan Iskan/istimewa

TEBET, AYOJAKARTA.COM -- “Barakollah... Salam untuk kakak...

Begitu pesan whatsapp dari Pak Dahlan Iskan menjawab chat yang saya kirimkan sebelumnya. Singkat banget. Dan itu biasa. Jadi saya gak begitu sebel bacanya.

Yang bikin sebel justru isi pesannya. Sebelumnya, saya kirim ucapan selamat via WA karena tahu Pak Dahlan mau bikin ‘koran’. Harian Disway namanya. Saya juga mendoakan, semoga media cetak itu sukses. Eh, by the way, masih ingat kan sama Pak Dahlan?

Kata barakollah dalam pesan singkat Pak Dahlan jelas merupakan respons dari ucapan selamat dan doa saya itu. Nah, kalimat setelahnya yang bikin sebel. Bahkan dua kali.

Saya tebak, yang dimaksud kakak oleh beliau itu palingan si Abdel Achrian. Tahu kan? Bener…, dia komedian yang sering dipanggil dengan predikat Cing di depannya. Ternyata eh ternyata, sosok Abdel begitu melekat di kepala Pak Dahlan.

Sebel yang kedua, Abdel malah disebut beliau sebagai kakak. Padahal, komedian yang bertahun-tahun berduet dengan Mamah Dedeh itu lahir belakangan ketimbang saya. Dan dari rahim ibunda kami yang sama. Coba bayangin, gimana rasanya?

Oke…, sekarang kita omongin tentang ‘koran’ Harian Disway.

Badan boleh dikurung—selama pandemi Covid-19. Tapi pikiran tidak bisa dibatasi. Ide tidak bisa dikekang. Terbitan Harian DI's Way ini adalah hasil lock down selama pandemi.

Inilah media yang diterbitkan tidak untuk tujuan bisnis. Inilah media yang tidak boleh disebut koran. Sebut saja media ini "harian", Harian DI's Way.

Menerbitkan Harian DI's Way ini adalah cara saya berterima kasih kepada jurnalistik. Saya harus mempertahankan jurnalistik. Meski tidak lagi mudah.

Jurnalistik tidak boleh mati. Ia harus tetap hidup—dengan cara harus menyesuaikan diri dengan keadaan baru. Yang serba mudah dan elektronik itu.

Begitu deretan paragraf yang Pak Dahlan tulis di disway.id, portal yang khusus menampung tulisannya, ketika menjelaskan tentang rencana penerbitan ‘koran’DI’sWay pada 4 Juli 2020.

Hmmm, kabar tentang Pak Dahlan yang mau bikin ‘koran’ Harian Disway cukup ngagetin saya juga sih. Maklum, banyak orang yang menyebut bisnis media cetak—baik koran maupun majalah—sudah masuk sunset. Tinggal tunggu matinya aja, bahkan. Keresahan itu sudah sering saya dengar bahkan ketika masih aktif di Bisnis Indonesia. Sekitar lima tahun lalu.

Cuma, rasa kaget itu cuma sebentaran. Setahu saya—meski gak terlalu dekat dengan beliau—Pak Dahlan orangnya ‘selon’. Hmmm, rada susah jelasinnya nih ke orang yang gak lama tinggal di Jakarta tentang kata yang satu itu. Dan, paling gampang jelasinnya kepada orang yang biasa main judi. Kok bisa...?

Pasalnya, kata selon jadi salah satu kosa kata yang sering terdengar di lapak judi. Gampangnya, selon itu berarti orang yang modalnya hampir habis dan kemudian mempertaruhkan semua uang yang masih tersisa.

Kata itu biasanya diikuti dengan kalimat yang bunyinya kayak mantra, “Kalau mau jadi uler jadi uler. Jadi kodok jadi kodok deh.” Artinya, kalau beruntung ya beruntung (sekalian), kalau habis...ya habis-habisan sekalian!

Setahu saya, aslinya, selon itu konotasinya berani. Namun dalam kenyataannya, orang selon itu kerap tidak memperhitungkan risiko atas tindakan mereka. Nah, di sini, selon-nya Pak Dahlan berbeda. Beliau pasti berani mengambil risiko, tetapi tetap dengan hitung-hitungan yang detail. Dan, Pak Dahlan pasti tidak sedang bermain judi. Kan haram…!

Apalagi, dua modal untuk mengembangkan media, melekat di diri Abah, begitu Pak Dahlan biasa dipanggil sama orang dekatnya. Apa tuh?

Nomor satu jelas, ketajaman instingnya dalam urusan berita dengan segala pernak-perniknya, termasuk bagaimana menulis. Bagi saya, Pak Dahlan masuk kategori wartawan kelas wahid. Satu lagi, beliau masih terus rajin menulis. Bahkan hanya dengan menggunakan HP, Abah bisa menulis artikel panjang yang renyah. Saya termasuk penggemar tulisan beliau.

Yang kedua, beliau juga tajam insting bisnisnya. Buktinya, ya Jawa Pos yang sekarang saya dengar bukan lagi di bawah kendali beliau. Terlepas dari pro dan kontra yang sampai ke kuping saya soal bagaimana Pak Dahlan mengelola, kelompok Jawa Pos nyatanya adalah salah satu grup media terbesar di Indoesia.

Terus, pengen tahu kenapa namaya Harian Disway? Ini sih bukan penjelasan langsung dari beliau, tetapi kesimpulan saya berdasarkan pengalaman berhubungan dengan Pak Dis. Kalau ini nama panggilan beliau di Jawa Pos.

Sekira dua tahun lalu, saya mendapatkan email dari Pak Dahlan. Isinya antara lain meminta izin menggunakan nama Disway ke saya untuk digunakan nama portal yang menampung tulisan-tulisannya. Lagi-lagi, yang beliau ingat ya Abdel itu. Udah gitu salah alamat, lagi.

Yang ada di kepala Dahlan, kakaknya komika Abdel lah yang menulis buku berjudul I Love Disway. Padahal, buku saya tentang Pak Dahlan judulnya Dahlan Is Can. Tapi, dua tahun lalu itu Pak Dahlan benar karena saya disebut kakak.

Ketika menjabat Menteri BUMN, Dahlan Iskan terkenal dengan panggilan DI. Dari situ lahir deh DI’s Way. Karena domain name tidak memungkinkan menggunakan apostrof (tanda petik satu), mau ndak mau namanya ditulis jadi disway. Kalau dalam bahasa Inggris, pas juga tuh kalau ditulis… this way!

Harian Disway tentu menjadi tantangan baru buat seorang Dahlan Iskan. Mampu gak beliau menjadikan media cetak itu bersinar di tengah keyakinan orang bahwa koran sudah memasuki masa-masa sunset?

Kita tunggu aja. Semoga sukses dan berkah ya Pak Dahlan....

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar