PPDB DKI Jakarta: Sekolah Swasta Unggulan Jadi Rebutan

  Minggu, 05 Juli 2020   Budi Cahyono
[Ilustrasi] Petugas melakukan input data calon siswa di hari pertama Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMA di SMA Negeri 3, Jalan Belitung, Kota Bandung, Senin (8/6/2020). (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM – Persoalan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) DKI Jakarta tahun ini memunculkan persoalan di kalangan orang tua murid. Kritik PPDB tahun ini masif ditujukan ke Pemprov DKI karena menggunakan usia sebagai salah satu syarat.

Mereka yang terpental dari SMA negeri lantas mencari SMA swasta unggulan sebagai pengganti. Terbatasnya jumlah sekolah swasta unggulan ini pun menjadi rebutan bagi kalangan orang tua, terutama yang mampu dari sisi finansial.

AYO BACA : PPDB Online, Pakar : Sosialisasi dan Edukasi Perlu Dilakukan

Wakil Ketua Forum Komunikasi Kepala Sekolah DKI Jakarta Suparno Sastro menyoroti, masalah timbul karena terbatasnya sekolah swasta unggulan di Ibu Kota ketika calon siswa tertolak dari SMA Negeri.

"Memang kondisi ini relatif hanya terjadi di beberapa sekolah (swasta) yang kategorinya unggulan. Swasta lain malah kekurangan jumlah siswa karena orang tua wali ingin cari pengganti yang unggulan karena enggak dapat SMA  Negeri," kata Suparno pada Republika.co.id, Minggu (5/7/2020).

AYO BACA : Cara Daftar PPDB SMA DKI Jakarta Secara Online

Namun sekolah swasta unggulan biasanya tidak terjangkau seluruh orang tua murid. Contohnya, SMA Labschool Jakarta mematok harga Rp30 juta untuk pendaftaran saja.

Orang tua murid yang tak berkocek tebal harus putar otak agar anaknya dapat melanjutkan pendidikan di sekolah unggulan.

"Ketika tak tertampung, relatif ada protes di situ. Sebenarnya kalau memang daya tampung muat, toh ada swasta lainnya, tapi pilihan terbatas di swasta unggulan, pilihannya enggak banyak," ujar Kepala SMA Labschool Jakarta itu.

Suparno berharap, Disdik DKI Jakarta tak lagi-lagi menciptakan masalah ketika PPDB. Dampaknya sangat dirasakan calon murid dan orang tua murid.

"Yang paling fatal itu di sosialisasi PPDB, kalau dilakukan jauh hari pakai umur bilang lah. Itu orang jadi enggak panik," sebut Suparno.

AYO BACA : Duh, Web PPDB SMA/SMK di Jabar Banyak Dikeluhkan Tak Bisa Diakses

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar