Lonjakan Kasus Corona Nasional, Pemerintah Harus Evaluasi Kebijakan

  Selasa, 14 Juli 2020   Fitria Rahmawati
ilustrasi new normal/ Ayobandung.com

TEBET, AYOJAKARTA.COM - Anggota DPD RI, Fahira Idris mengungkapkan, tingkat kedisiplinan yang rendah terhadap protokol kesehatan membuat lonjakan kasus keterjangkitan nasional kian meningkat. Jal ini menjadi sinyal kuat perlu segera dilakukan evaluasi total baik dari sisi tataran strategi maupun dari sisi narasi atau komunikasi.

“Satu hal yang tidak boleh terjadi dalam upaya kita melawan pandemi ini adalah masyarakat mulai acuh dan tidak peduli akan bahayanya virus ini atau kehilangan sense of crisis atas situasi saat ini. Sikap ini berpotensi lahir jika masyarakat terus berada dalam situasi yang tidak pasti karena melihat upaya penanggulangan corona yang tidak kunjung menampakkan hasil signifikan atau terus terjadi lonjakan kasus. Untuk itu kita perlu energi dan semangat baru yang semuanya itu bisa terjadi jika Pemerintah mengevaluasi total strategi dan narasi penanggulangan corona,” kata Fahira Idris, di Jakarta (14/7).

Fahira memandang jika saja di awal-awal pandemi, strategi yang diutamakan Pemerintah Pusat adalah kebijakan tes massal, pelacakan, peningkatan komunikasi publik. Tak hanya itu penggunaan teknologi informasi yang disertai kesiapan layanan kesehatan memungkinkan pada Juli ini grafik kasus positif di Indonesia tidak hanya melandai tetapi juga bisa turun drastis.

AYO BACA : Bertambah 275 Kasus, Virus Covid-19 Telah Menginfeksi 14.915 Orang di Jakarta

Fahira menyayangkan kebijakan Kemenhub yang melonggarkan transportasi dan berbenturan dengan banyak keboijakan lainnya yang berkaitan dengan penurunan angka penularan corona. Bahkan, kebijakan beberapa kepala daerah yang ingin melakukan karantina wilayah juga terbentur oleh kebijakan PSBB. Saat itu, hanya pemerintah pusat lah yang berhak menyatakan suatu wilayah boleh melakukan karantina atau tidak.

Kebijakan new normal pun dianggap keliru lantaran grafik kasus keterjangkitan corona masih jauh dari kata mendekati normal. 

“Saya sepakat istilah new normal ini diganti karena memang tidak tepat dengan kondisi Indonesia saat ini. Namun yang lebih penting dari semua itu adalah Pemerintah Pusat mengevaluasi total semua program penanggulangan corona baik strategi maupun narasinya. Saat ini masyarakat membutuhkan sebuah strategi baru dan narasi besar yang menggugah untuk membangkitkan optimisme dan agar tetap konsisten menjalankan protokol kesehatan,” pungkas Senator Jakarta ini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar