>

Cerita Slamet, Pejuang Tentara Pelajar yang Gencar Ajak Masyarakat Donor Darah

  Rabu, 12 Agustus 2020   Budi Cahyono
Slamet, salah satu pejuang dan Tentara Pelajar pada saat merebut kemerdekaan. (Ayosemarang/Vedyana)

SEMARANG, AYOJAKARTA.COM -- Semangat sebagai pejuang jelas masih ada di diri Slamet yang merupakan satu dari tiga mantan Tentara Pelajar (TP), yang masih hidup di Semarang. 

Meski usianya kini menginjak 90 tahun lebih, dan harus dibantu tongkat untuk berjalan, namun ingatan soal pertempuran di agresi militer Belanda masih tergambar jelas. 

Ayosemarang.com pun berkesempatan mendengarkan kisahnya dan para teman-teman seperjuangannya sebagai Tentara Pelajar yang ikut bertempur dalam peristiwa agresi militer Belanda.

"Saya lahir 1 April 1930. Saat ikut tentara pelajar, umur saya baru 16 tahun. Agresi militer Belanda meletus tepat saat saya masih kelas dua SMP," ujarnya, Selasa (11/8/2020).

Saat itu, Slamet mengaku berada di Detasemen III Yogyakarta. Dan Komandannya ialah Kapten Martono. Dia pun bergabung dengan kurang lebih 1.200 Tentara Pelajar lainnya.

Pada agresi militer I, dirinya menceritakan terlibat pertempuran di sekitar Jatingaleh. Dan di agresi militer II, ia bergabung dengan pasukan induk di Yogyakarta.

"Mendengar Belanda menduduki Yogyakarta, saya dari rumah ortu langsung pergi ke Yogyakarta. Gabung dengan pasukan induk. Saya jalan kaki dari Parakan sampai Yogyakarta. Tempur di Gunungkidul juga jalan kaki," ceritanya.

Akhirnya singkat cerita, pada tahun 1950 kegiatannya sebagai Tentara Pelajar pun usai. Slamet mengaku bangga, jika saat mudanya dahulu bisa berbuat sesuatu untuk nusa dan bangsa.

"Saya senang bisa berbuat sesuatu untuk nusa dan bangsa," ucapnya yang dibarengi mata yang berkaca-kaca seolah mengingat perjuangan para teman seperjuangnya dalam mempertahankan Tanah Air.

Pahlawan Gerilya

Atas jasanya sebagai anggota Tentara Pelajar, ia mendapat penghargaan sebagai pahlawan gerilya. Dimana pangkat terakhirnya yaitu prajurit satu.

Setelah menjadi Tentara Pelajar, Slamet pun memutuskan sekolah kembali dan masuk ke sekolah kehutanan, lulus di Bogor tahun 1952.

Selepas kemerdekaan, dia menghabiskan waktu dengan bekerja di ladang perkebunan milik Pemerintah Indonesia selama kurang lebih 24 tahun. Pada tahun 1986, dirinya pun pensiun.

Setelah pensiun, dia pun menjadi relawan PMI di kampungnya. Selama puluhan tahun menjadi koordinator PMI, pria yang masih sehat bugar ini telah mengumpulkan 4.500 kantong darah guna diserahkan ke PMI.

Ia pun menceritakan sejumlah kendala saat menjadi koordinator PMI. Salah satunya adalah sulitnya saat itu mengajak masyarakat untuk berdonor darah.

"Karena saya tahu darah sangat dibutuhkan masyarakat, makanya saya pilih jadi sukarelawan PMI. Saya rutin ajak warga Pedurungan untuk berdonor darah. Saya jadi relawan PMI sudah 32 tahun," katanya.

Bahkan, tak sedikit yang beranggapan bahwa dirinya yang sebagai relawan PMI donor darah malah tidak rutin mendonorkan darahnya sendiri.

"Ada juga yang bertanya pada saya. Bapak Slamet ini kok gencar ngajak donor, apa bapak donor darah? Saya jawab, saya ngajak donor darah masak saya nggak donor darah, kan lucu," terangnya.

"Saya beserta cucu saya ini tentu ikut mendonorkan darah. Saya donor darah hingga umur 64 tahun. Dan setelah usia itu tidak direkomendasikan lagi karena usia. Tapi Kalau cucu saya ini masih. Karena sekolahnya di Solo jadi donor darahnya di PMI Solo," tambahnya.

Saat ditanya harapan kepada generasi saat ini, Slamet berharap, pada generasi saat ini jangan pernah lupa perjuangan para pahlawan. "Selain itu saya berharap agar anak anak muda saat ini bisa terus berbuat sesuatu yang positif untuk kepentingan nusa dan bangsa," pesannya. (Vedyana)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar