SURVEI IPO: Publik Nilai Ketua NU Cocok Jadi Menteri

  Kamis, 29 Oktober 2020   Icheiko Ramadhanty
ilustrasi (dok)

TEBET, AYOJAKARTA.COM – Indonesia Political Opinion (IPO) merilis hasil survei yang telah dilakukan pada 12-23 Oktober 2020. Survei tersebut membahas tentang Kinerja Kementerian/lembaga, Peluang Reshuffle Kabinet, dan Potensi Calon Presiden 2024.

Survei tersebut dilakukan dengan metode purposive sampling terhadap 170 orang pemuka pendapat (opinion leader) yang berasal dari peneliti universitas, lembaga penelitian mandiri, dan asosiasi ilmuwan sosial/perguruan tinggi.

Salah satu yang dinilai yaitu penilaian publik terhadap anggota kabinet Indonesia Maju yang paling diharapkan untuk diganti atau reshuffle. Selain itu, survei IPO juga memaparkan penilaian terkait persepsi publik pada tokoh yang dianggap potensial untuk menjadi pengganti menteri yang terkena reshuffle nantinya.  

Setidaknya, 10 nama paling atas merupakan tokoh publik kenamaan. Seperti mantan Menteri Perikanan dan Kelautan, Susi Pudjiastuti, hingga Ketua Nahdlatul Ulama (NU), Said Aqil Siradj.

Susi berada pada peringkat pertama yang diharapkan oleh publik untuk dapat bergabung kembali menjadi pembantu Presiden Joko Widodo. Susi mendapatkan penilaian publik sebesar 40.1%.

Berikut daftar nama lain yang diharapkan publik untuk menjadi pembantu presiden pada kabinet Indonesia Maju:

1.     Arief Yahya 35.7%)

2.     Dahlan Iskan (32.3%)

3.     Ignasius Jonan (26.6%)

AYO BACA : SURVEI IPO: Dari Terawan, Nadiem, hingga BKS Jadi Daftar 10 Besar Menteri yang Harus Diganti

4.     Sandiaga S. Uno (23.9%)

5.     Rizal Ramli (20.2%)

6.     Haedar Nasir (18.5%)

7.     Doni Monardo (18.5%)

8.     Said Aqil Siroj (17.6%)

9.     Agus Harimurti Yudhoyono (16.1%)

Survei IPO tersebut juga menilai adanya kekecewaan publik terhadap presiden dan wakil presiden kabinet Indonesia Maju. Faktor kekecewaan yang paling berpengaruh  adalah faktor kepemimpinan 75%, faktor keberpihakan pada rakyat 71%, faktor integritas atau ketepatan janji 66%, koordinasi antar-lembaga 69%, dan empati atau aspiratif 53%.

Pada bidang sosial dan humaniora, persepsi publik berbagi angka ketidakpuasan tercatat sebesar 50 persen. Beberapa faktor yang memengaruhi persepsi publik terkait kondisi Sosial, Politik dan Humaniora, adalah, pengelolaan toleransi (51%), konflik sosial (46%), kesejahteraan (45), keadilan (38%), dan hal lainnya (27%).

“Secara umum klaster sosial mendapat penilaian baik, meskipun setara dengan tidak baiknya. Pemerintah terbantu dengan program-program bantuan selama pandemi, dan itu mendapat respon positif di masyarakat,” ungkap Direktur Eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah, dalam pernyataan resminya, Kamis (29/10/2020). 

AYO BACA : SURVEI IPO: Dua Srikandi Jokowi Masuk 10 Besar Daftar Menteri Paling Memuaskan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar