>

Hadapi Iklim Baru saat Pandemi, Pelaku Pariwisata Butuh Sertifikat CHSE

  Rabu, 04 November 2020   Budi Cahyono
ilustrasi tempat wisata (Ayobandung/Kavin Faza)

LEMBANG, AYOJAKARTA.COM – Seritifikat Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE) mutlak diperlukan pada masa pandemi saat ini.

Bagi pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif di Kabupaten Bandung Barat (KBB), seritifikat CHSE mutlak dilakukan agar mereka mampu menghadapi iklim pariwisata baru setelah pandemi Coronavirus Disease (Covid-19).

“Pariwisata Bandung Barat bisa rebound asal semua pelaku pariwisata konsisten menerapkan standar protokol CHSE di tempat masing-masing,” kata Anggota Komisi X DPR RI Rian Firmansyah dalam Sosialisasi Panduan Pelaksanaan Kebersihan, Keselamatan dan Kelestarian Lingkungan di Lembang, Selasa (3/11/2020).

AYO BACA : Usai Pulang Liburan saat Pandemi Covid-19, Segera Lakukan 7 Hal Ini Sesampai di Rumah

Politikus milenial dari Partai NasDem ini menilai, protokol CHSE ini sekaligus mengakhiri perdebatan apakah prioritas Covid-19 ini di sektor kesehatan atau sektor ekonomi.

CHSE merupakan jalan tengah agar roda ekonomi tetap berjalan beriringan dengan kesehatan.

“Kita perlu memastikan roda perekonomian masyarakat di sektor pariwisata terus berjalan. CHSE ini merupakan jalan tengah, agar sektor kesehatan tetap terjaga dan roda ekonomi tetap berjalan beriringan,” katanya.

AYO BACA : Kampanyekan 3M Pencegahan Covid-19, Trans Studio Bandung Terapkan Protokol Kesehatan Ketat

Sertifikasi CHSE ini, menurut dia, berfungsi sebagai jaminan dari pelaku usaha pariwisata untuk wisatawan dan masyarakat. Bahwa produk dan pelayanan yang diberikan sudah memenuhi protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan dan kelestarian lingkungan.

Sehingga para wisatawan yang datang berkunjung akan merasa nyaman dan aman dalam menikmati destinasi wisata. CHSE bisa menghindarkan dari rasa ketakutan sehingga minat dan gairah masyarakat untuk berwisata kembali muncul.

“Pandemi membuat orientasi wisatawan dalam melakukan perjalanan mengalami perubahan mindset. Tak hanya kebutuhan fasilitas pendukung saja, tetapi apakah destinasi wisata sudah berbasis CHSE menjadi pertimbangan penting,” kata legislator Dapil KBB dan Kabupaten Bandung ini.

Dia melihat sektor pariwisata bagi warga Bandung Barat merupakan urat nadi. Untuk itu dirinya mengajak semua pihak terutama para pemangku kepentingan untuk menjaga ekosistem kepariwisataan di Bandung Barat agar tetap terjaga. Serta berkolaborasi untuk membantu mempromosikannya.

“Tidak mungkin beban ini diberikan ke dinas pariwisata saja. Tetapi juga ada dukungan dari Kemenparekraf, khususnya terkait dengan bagaimana mempromosikan pariwisata, khususnya di era digital seperti saat ini,” ujarnya. (Tri Junari)

AYO BACA : 16 Oktober 2020, Karimunjawa Mulai Dibuka untuk Wisatawan Secara Bertahap. Ini Aturannya!

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar