Ada 22.683 Kilogram E-waste di Jakarta Tahun Ini! Simak Cara Layanan Jemput E-waste

  Sabtu, 21 November 2020   Aini Tartinia
Layanan jemput sampah oleh Dinas Lingkungan Hidup DKI/dok: beritajakarta.id

KRAMAT JATI, AYOJAKARTA.COM –  Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengumpulkan sebanyak 22.683 kg limbah elektronik (e-waste) selama periode Februari 2020 sampai dengan Oktober 2020.

Limbah tersebut terkumpul dari puluhan tempat penampungan limbah elektronik berupa drop box e-waste yang tersebar di Jakarta dan melalui layanan jemput e-waste.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Andono Warih mengatakan, puluhan titik drop box e-waste telah tersebar di gedung maupun kantor Pemerintahan Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, perusahaan swasta, sekolah, halte Transjakarta, stasiun kereta api, stasiun MRT, dan ruang publik lainnya.

AYO BACA : Pascaterhenti karena Covid-19, Pemkot Jakut Buka Kembali Layanan SILA di Mal

"22.000 kilogram lebih sampah atau limbah elektronik sudah kami angkut periode Januari sampai Oktober. Kami bekerjasama dengan pihak ketiga yang memiliki izin dari Kementerian LHK untuk pengelolaan lanjutannya," kata Andono, dikutip dari beritajakarta.id, Selasa (17/11/2020).

Andono menjelaskan, warga Jakarta juga bisa menyerahkan atau minta penjemputan limbah elektronik dengan berat minimal lima kilogram ke Kantor Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta di Jalan Mandala V, Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Warga Jakarta dapat melakukan permohonan layanan secara daring dengan mengunjungi situs Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta di lingkunganhidup.jakarta.go.id atau melalui Facebook dengan akun Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.

AYO BACA : Kasus Harian Covid-19 Nasional: Tambah 4.792 Kasus Positif (Update 20 November 2020)

Andono mengatakan, metode penjemputan sampah atau limbah elektronik diawali dengan pendaftaran dasar dengan mengisi form (Google form) website tersebut. Dia menambahkan, sebanyak 40 pemohon sudah dilayani periode Februari 2020 sampai dengan Oktober 2020 lalu.

"Penjemputan sampah atau limbah elektronik mencakup lima wilayah kota administrasi. Harus warga DKI Jakarta dan perorangan. Kemudian, berat timbangan sampah elektronik minimal lima kilogram," ujar Andono.

Dia menjelaskan, limbah elektronik (e-waste) adalah barang atau peralatan elektrik dan elektronik yang sudah usang, sudah berakhir daur hidupnya, dan tidak lagi memberikan nilai atau manfaat bagi pemiliknya. Limbah elektronik mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3).

"E-waste dapat bersumber baik dari rumah tangga dan juga dari hasil kegiatan seperti dari perkantoran, sekolah, hotel, apartemen dan lain-lain," tandasnya.

AYO BACA : Akhirnya, Sekolah Boleh Belajar Tatap Muka Mulai 2 Januari

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar