Masih Bertahan di 4.000-an, Kasus Harian Covid-19 Nasional Tambah 4.998 Kasus Positif (Update 21 November 2020)

  Sabtu, 21 November 2020   Aini Tartinia
[ilustrasi] Update Covid-19 Indonesia

TEBET, AYOJAKARTA.COM – Update kasus harian Covid-19 nasional masih bertahan di angka 4.000-an. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat ada penambahan sebanyak 4.998 kasus kasus positif Covid-19 di Indonesia selama 24 jam terakhir sampai dengan pukul 12.00 WIB pada Sabtu, 21 November 2020.

Sementara itu, jumlah angka suspek mencapai 64.317 orang dan jumlah sampel tes sebanyak 43.122.

Penambahan selama 24 jam itu menjadikan total akumulasi konfirmasi positif di Indonesia mencapai 493.308 kasus. Angka itu termasuk 63.579 kasus aktif dengan penambahan 1.499 kasus. Catatan lain adalah 413.955 total kasus sembuh dengan penambahan 3.403 kasus yang berhasil disembuhkan, serta 15.774 kasus meninggal dunia dengan penambahan 96 kasus meninggal.

Rekor kasus tertinggi di Indonesia terjadi pada 13 November 2020 lalu, yaitu sebanyak 5.444 kasus. Untuk wilayah DKI Jakarta, hingga berita ini diturunkan, Kementerian Kesehatan belum menyajikan data lebih lanjut terkait kasus per provinsinya.

Berikut Ayojakarta rangkum kasus harian Covid-19 secara nasional selama sepekan belakang, yang bersumber dari covid19.go.id:

14 November: 5.272 kasus

15 November: 4.106 kasus

16 November: 3.535 kasus

17 November: 3.807 kasus

18 November: 4.265 kasus

19 November: 4.798 kasus

20 November: 4.792 kasus

21 November: 4.998 kasus

PRIORITAS VAKSINASI

Sementara itu, Kementerian Kesehatan telah menentukan kriteria kelompok masyarakat yang diprioritaskan dalam proses vaksinasi Covid-19. Pemerintah akan memastikan jika setiap tahapannya berjalan aman dan lancar.

Kriteria yang diprioritaskan adalah tenaga kesehatan baik itu dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya. Lalu personel TNI dan Polri juga masuk kriteria yang diprioritaskan untuk diberikan vaksin Covid-19.

Namun, ada yang cukup mengejutkan publik terkait pemberian vaksinasi tersebut. Pasalnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan siap menjadi orang pertama yang disuntik vaksin Covid-19.

Hal itu dikatakannya dalam kunjungan ke Puskesmas Tanah Sareal Bogor Jawa Barat pada Rabu (17/11) pagi. Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan siap disuntik vaksin Covid-19 paling awal.

“Kalau ada yang bertanya presiden nanti di depan atau di belakang (pemberian vaksin)? Kalau oleh tim diminta, saya yang paling depan, saya siap,” ujarnya dalam pidatonya tersebut.

Sebagai informasi, pengembangan Vaksin Sinovac yang dilakukan di center Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) telah memasuki fase III. Selain itu, uji klinik pada penyuntikan seluruh relawan juga telah selesai.

Pendampingan akan terus dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sejak pengembangan protokol uji klinik dan inspeksi pelaksanaan uji klinik. Sedangkan untuk memastikan mutu vaksin Covid-19 dilakukan inspeksi kesiapan fasilitas produksi, baik di Cina maupun di Bio Farma.

Uji klinik merupakan tahapan penting guna mendapatkan data efektivitas dan keamanan yang valid untuk mendukung proses registrasi vaksin Covid-19. Sejauh ini tidak ditemukan adanya reaksi yang berlebihan atau Serious Adverse Event yang ditemukan selama menjalankan uji klinik fase III di Unpad.

“Perkembangan vaksin Covid-19 sudah masuk uji fase III, tinggal menunggu laporan dari Brasil, Tiongkok, Turki, dan Indonesia. Setelah laporan selesai barulah keluar izin edarnya,” kata Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Hindra Irawan Satiri, dalam keterangan resmi yang diterima Ayojakarta, Jumat (20 November 2020).

Hindra menjelaskan bahwa KIPI bertugas untuk mendeteksi dan mengkaji vaksin tersebut, apakah terkait imunisasi atau tidak. Ilmu tersebut bernama Farmakovigilans. Tujuannya adalah untuk meningkatkan keamanan dan meyakinkan masyarakat, sehingga memberikan pelayanan yang aman bagi pasien dan memberikan informasi terpercaya.

Lebih lanjut lagi, Hindra menerangkan bahwa semua fase-fase uji klinik vaksin memiliki syarat yang harus dilakukan. Semua syarat harus terpenuhi baru boleh melanjutkan ke fase berikutnya.

Namun dalam keadaan khusus seperti pandemi Covid-19, kata dia, proses bisa dipercepat tanpa menghilangkan syarat-syarat yang diperlukan. Semua proses ini pun didukung oleh pembiayaan dan sumber daya yang dibutuhkan, sehingga proses-proses yang lebih panjang dalam penemuan vaksin bisa dipersingkat.

“Saya tidak setuju terminologi antivaksin, masyarakat sebenarnya masih miskonsepsi, artinya pengertian masyarakat belum mantap karena mendapat keterangan dari orang-orang yang kurang kompeten atau bukan bidangnya.”

Menurut dia, masyarakat perlu mendapatkan informasi dari sumber-sumber terpercaya seperti organisasi profesi dan kesehatan terpercaya.

“Jangan dari situs yang tidak jelas, dari grup WhatsApp itu yang membingungkan masyarakat. Di masyarakat beredar mitos yang mengatakan vaksin mengandung zat berbahaya. Hal ini tidak benar, karena tentu saja kandungan vaksin sudah diuji sejak pra klinik.” 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar