>

Kuliner Ekstrem Kota Bekasi: Bahan Baku Kobra, Biawak, hingga Kalong

  Rabu, 30 Desember 2020   Fitria Rahmawati
Koki sajian kuliner ekstrem Ian Suhendi (32) sedang memasak di tenda miliknya 'Tenda Dua Kobra' yang menyajikan makanan berbahan dasar kobra, biawak, dan kalong/ Suara.com

KOTA BEKASI, AYOJAKARTA.COM - Pecinta kuliner yang kurang tertantang bisa mencoba santapan ekstrem di warung milik Ian Suhendi (32) di tenda di Kuliner Pasar Lama, tepatnya di Jalan Ki Samaun, Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang, Banten. Olahan makanan dari bahan dasar ular kobra, biawak, hingga kalong disajikan warung tersebut dalam 'Tenda Dua Kobra'.

Bukan tanpa keahlian, menjual makanan ekstrem butuh skil dewa untuk mengolahnya. Sang koki handal tersebut harus bisa memegang cobra di saat yang tepat sebelum diolahnya. Jadi ularnya masih hidup sebelum di masak ya, gaes!

Tak melulu lancar, Ian pernah digigit kobra hingga pingsan dan dilarikan ke rumah sakit oleh temannya. Ngeri ya! Beruntung, Ian selamat dari gigitan tersebut. Bahkan dalam pengakuannya, ia sudah empat kali merasakan tajamnya taring kobra dan ganasnya bisa yang disemburkan calon hidangan tersebut.

Sebelum pandemi, ada 15 kg kobra dan 15 kg biawak yang biasanya ludes dilalap pelanggannya. Mulai dari hidangan sop, satai, abon, hingga gorengan daging ekstrem tersebut. Omzetnya jangan ditanya, ya. Ian bisa meraup hingga Rp 5 juta dalam waktu semalam saja. Pada kondisi sebelum pandemi pula, ia membuka tendanya sejak pukul 17.00 hingga 23.00 WIB.

Lantaran dihantam pandemi, penurunan permintaan pun terjadi. Ia kini hanya bisa menjual makanan ekstrem tersebut sebanyak 5 kilo masing-masing varian daging. Omzernya juga menurun, maksimal hanya bisa mendapatkan Rp2 juta semalam. Jam operasionalnya pun dibatasi hingga pukul 19.30 petang.

Lelaki yang tingal di belakang GOR Dimyati Kota Tangerang itu mendapat bahan baku ular kobra dari pemasok langganannya yakni asal Balaraja Kabupaten Tangerang. Namun jika stok terbatas, Ian meminta dikirim ular berbisa tersebut dari wilayah Jawa Tengah.

Warung keluarga tersebut diakui Ian sudah 18 tahun berdiri. Resep yang ia dapatkan pun dari saudaranya sendiri yakni paman dan kakeknya.

AYO BACA : Ancaman Pencabutan Izin Kafe di Jakarta Jika Tak Tutup Awal Saat Malam Tahun Baru

Untuk ular, biawak dan kelelawar yang di goreng maupun satai, ia membanderolnya dengan harga sama yakni Rp 24 ribu. Sementara untuk sop ia menghargai Rp 20 ribu dan abon dijual Rp 25 ribu.

"Kalau ular kobra satu ekor kami jual Rp 60 ribu. Itu sudah semuanya termasuk darah, empedu, dan daging kobra goreng atau sate," ungkapnya.

Ian mengakui, awalnya ia menjual sate kobra, biawak dan kalong hanya untuk obat kulit. Namun, lambat laun lantaran semakin banyak orang yang tahu, sekarang warung tenda miliknya banyak dikunjungi orang yang hanya mau mencoba-coba.

"Banyak yang datang ke sini cuma mau nyoba daging ular, biawak dan kalong," ujarnya lagi.

Kata dia, untuk khasiatnya, baik daging ular, biawak dan kalong bermanfaat untuk mengobati penyakit kulit.

"Kalau darahnya bisa untuk penambah stamina dan empedunya untuk obat panas dalam," katanya.

Kalau tertarik, datang aja langsung ke tenda Ian. Kamu hanya butuh berjalan dari tempat parkir dekat Pendopo Bupati Tangerang sekitar 500 meter.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar