>

Nasib Pengrajin Tahu-Tempe saat Harga Kedelai Tak Bisa Dijangkau

  Minggu, 03 Januari 2021   Fitria Rahmawati
ilustrasi pengrajin tahu/ Ayobogor

TEBET, AYOJAKARTA.COM - Tahu dan tempe, makanan merakyat Indonesia yang menjadi andalan makanan rumah kini sedang dilanda kegundahan. Menu lauk andalan harga murah bergizi tinggi ini justru berada dalam rasa yang 'pahit'. Betapa tidak, harga impor kedelai yang menjulang tinggi tak lagi membuat para pengrajinnya mampu bertahan.

Aksi mogok sudah dilakukan para pengrajin makanan berbahan dasar kedelai ini. Tak sedikit yang harus gulung tikar lantaran tak mampu menjangkau kedelai, sehingga alat produksinya tak lagi beroperasi.

Tarjumi (60) menjadi contoh warga yang merasakan bagaimana tempe dan tahu kini pahit. Salah seorang pedagang tahu dan tempe ini mengaku tak lagi mendapatkan pemasukan lantaran tingginya harga kedelai.

AYO BACA : Cara Cek Bantuan PKH 2021 di dtks.kemensos.go.id

“Dampak mogok selama tiga hari ini sangat jelas, karena ini saya nganggur dan tidak ada pemasukan apa-apa. Kita sebagai pedagang kecil supaya pemerintah mengerti apa yang dirasakan pedagang kecil, kami berharap pemerintah bisa menstabilkan harga kedelai, kalau bisa kembali lagi melalui Bulog,” ujar Tarjumi, sebagaimana dilansir Bantennews.co.id dalam Suara.com - jaringan Ayojakarta, Sabtu (2/1/2021).

Hal itu diamini Ketua Umum Sahabat Pengrajin Tempe Pekalongan (SPTP) Indonesia, Haryanto. Ia mengaku tak sedikit para pengrajin yang tergabung dalam organisasinya banyak yang gulung tikar akibat dari kenaikan harga kedelai.

Pengrajin tahu dan tempe asal Pekalongan yang kini tinggal di Tangerang itu berharap, pemerintah bisa menekan kembali harga kedelai seperti semula.

AYO BACA : Lusiawati Dewi Ajak Berinovasi Tempe untuk Naik Kelas

“Dengan adanya kenaikan harga kacang kedelai import yang sangat tinggi dari Rp 7000, kini berubah menjadi Rp 9500 per kilonya telah menimbulkan keresahan. Lonjakan harga ini akan memicu para pengrajin gulung tikar. Kami berharap kepada pemerintah bisa menstabilkan kembali harga seperti semula,” ucap Haryanto.

Sementara Ketua Bidang Hukum Sedulur Pengerajin tahu Indonesia (SPTI), Fajri Safii mengatakan, aksi mogok produksi tersebut dilakukan lantaran dipicu oleh kenaikan harga kedelai yang melonjak hingga 35%.

Menurut Fajri, saat ini lonjakan harga kedelai mencapai kisaran Rp 9.000 sampai Rp 10.000. Harga kedelai pada sebulan sebelumnya masih Rp 7.000 sampai Rp 7.500.

“Kenaikan harga kedelai ini menyebabkan para pengrajin tahu mogok produksi, karena pengrajin tidak sanggup membeli kedelai dengan harga yang sangat mahal,” terang Fajri Safii.

Terkait lonjakan harga kedelai itu, Fajri menilai bahwa pemerintah seperti diam saja dan tidak mengambil tindakan apapun terhadap kenaikan harga kedelai. Bahkan pihaknya menduga, dalam kenaikan harga kedelai banyak kartel yang bermain.

“Kalau melihat Peraturan Menteri Perdagangan nomor: 24/M-DAG/PER/5/2013 tentang ketentuan import kedelai dalam rangka stabilitas harga kedelai. Peraturan ini dianggap menghambat tumbuhnya importir-importir baru yang menyebabkan seseorang importir lama semaunya menetukan harga, dan melakukan kesepakatan harga atau kesepakatan pembagian wilayah pemasaran. Hal ini jelas bertentangan dengan UU No.5 Tahun 1999 tentang praktek monopoli dan persaingan usaha yang tidak sehat,” ungkap Fajri.

AYO BACA : Pidato Tahun Baru 2021 Presiden Joko Widodo Ungkap 2020 Tahun yang Berat

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar