Harga Kedelai Mahal dan Langka, Begini Penjelasan Jokowi

  Senin, 11 Januari 2021   Budi Cahyono
Pekerja menyelesaikan produksi tempe di rumah Produksi Tempe, Jalan Mekarsari, Baleendah, Kabupaten Bandung, Senin (4/1/2021). (Ayobandung.com/Kavin Faza)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM – Presiden Joko Widodo (Jokowi) merespons mahalnya harga kedelai yang dikeluhkan para perajin tahu dan tempe di beberapa daerah Tanah Air. Persoalan tersebut menjadi perbincangan hangat pada pekan lalu.

"Kita tahu beberapa minggu hari terakhir ini, urusan yang berkaitan dengan tahu dan tempe, kedelai menjadi masalah juga karena tadi yang saya sampaikan," ucap Jokowi  saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pembangunan Pertanian 2021 di Istana Negara, Jakarta, Senin (11/1/2021).

Karena itu mantan Gubernur DKI Jakarta itu meminta pengelolaan pangan harus diselesaikan secara cepat.

AYO BACA : Dampak Kedelai Langka di Jatim, Kementan Sidak ke Surabaya

"Kita tahu penduduk Indonesia sudah 270 juta lebih. Oleh sebab itu pengelolaan yang berkaitan dengan pangan itu betul-betul harus kita seriusi, pembangunan pertanian betul-betul harus kita seriusi secara detail," katanya.

Ia pun menitikberatkan permasalahan yang berkaitan dengan komoditas pertanian seperti kedelai, jagung, gula, beras dan bawang putih yang masih impor.

"Kedelai hati-hati, jagung hati-hati, gula hati-hati ini yang masih jutaan-jutaan, jutaan ton bawang putih, beras. Meskpun ini hampir dua tahun kita nggak impor beras. Saya mau lihat betul konsisten bisa kita lakukan untuk tahun-tahun mendatang," tuturnya.

AYO BACA : Harga Kedelai Mahal, Ini Solusi Pemprov DKI Mengatasi Kelangkaan Kedelai di Jakarta

Lebih lanjut, ia meminta jajaran terkait untuk mencarikan solusi agar Indonesia tak lagi impor bawang putih, gula, jagung dan kedelai.

"Ini harus diselesaikan, urusan bawang putih urusan gula urusan jagung urusan kedelai dan komoditas yang lain yang masih impor. Tolong ini menjadi catatan dan segera dicarikan desain yang baik agar bisa kita selesaikan," katanya menambahkan.

Dia menambahkan, pada masa pandemi Covid-19 ini sektor pertanian menjadi semakin sentral. Bahkan, kata dia, Food and Agriculture Organization (FAO) memperingatkan potensi krisis pangan karena adanya pembatasan mobilitas warga dan distribusi pangan yang terkendala Covid-19.

"Kita tahu FAO memperingatkan potensi terjadinya krisis pangan, hati-hati mengenai ini. Hati-hati akibat pembatasan mobilitas warga dan bahkan distribusi barang antarnegara, distribusi pangan dunia menjadi terkendala," ujar Jokowi.

AYO BACA : Harga Kedelai Mahal, Produsen Tahu-Tempe di Jabar Harapkan Subsidi Pemerintah

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar