>

Warga Muslim Rayakan Pembatalan Larangan Masuk AS

  Senin, 25 Januari 2021   Husnul Khatimah
Joe Biden. (AP/Carolyn Kaster)

TEBET, AYOJAKARTA.COM -- Setelah Donald Trump dinyatakan kalah pada Pilpres AS 2020, Monzir Hashim dan istrinya, Alaa Jamal, yang merupakan umat muslim Sudan berpelukan dengan gembira dan meletus dengan ucapan ala pernikahan. Setelah dilantik sebagai Presiden, Joe Biden akhirnya membatalkan seluruh perintah era Trump yang telah melarang orang-orang di seluruh dunia, kebanyakan muslim seperti dirinya, untuk memasuki Amerika Serikat (AS).

Alaa menangis dengan gembira. “Akhirnya, kebahagiaan,” katanya melalui telepon seperti dikutip dari telegraphindia, Senin (25/1/2021).

Beberapa orang asing menyambut kemenangan pemilihan Biden dengan antusias seperti puluhan ribu Muslim yang telah dikucilkan dari AS selama empat tahun terakhir sebagai akibat dari pembatasan imigrasi era Trump yang dikenal sebagai "Muslim Ban".

Berdasarkan penghitungan, 42.000 orang dicegah memasuki AS dari 2017 hingga 2019, sebagian besar dari negara-negara mayoritas Muslim seperti Iran, Somalia, Yaman dan Suriah. Visa imigran yang dikeluarkan untuk warga negara tersebut turun hingga 79 persen selama periode yang sama.

Tindakan Trump itu pun telah menyisakan air mata dan bahkan darah. Misalnya, mereka terpaksa terpisah dari keluarganya selama bertahun-tahun, pernikahan dan pemakaman sangat sulit, karir dan rencana studi menjadi berantakan, dan tidak bisa melakukan operasi di AS.

Biden mengatakan dalam perintahnya bahwa tindakan Trump tersebut merusak keamanan Amerika, membahayakan aliansi globalnya dan menimbulkan kerusakan moral, sehingga mengurangi kekuatan Amerika sebagai negara teladan dunia.

Kendati demikian, bagi sebagian orang keputusan Biden tersebut mungkin agak terlambat. Karena, kebijakan Trump sudah terlanjur membuat seorang muslim dari Iran tidak bisa bertemu dengan orang tuanya hingga meninggal dunia.

Seorang mahasiswa pascasarjana ilmu saraf di Universitas Rhode Island, Negar Rahmani harus menunda kepulangannya ke Iran setelah adanya pembatasan imigrasi Trump. Untuk sementara, dia pun meminta orang tuanya untuk melakukan panggilan video sampai Presiden Amerika yang baru terpilih.

Kemudian pandemi melanda dan pada November 2020. Ibu Rahmani yang berusia 56 tahun di Iran harus dirawat di rumah sakit karena Covid-19. Namun, Jika Rahmani terbang pulang, dia berisiko dikucilkan dari AS untuk selamanya. Tetapi kondisi ibunya semakin memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.

Sekarang, dalam sebuah wawancara Rahmani mengaku sangat menyesal tidak bisa pulang ke Iran ketika ibunya masih hidup. Dia pun merasakan sakit yang luar biasa oleh kebijakan Trump tersebut, yang membuatnya seperti burung dalam sangkar.

"Saya merasa seperti berada di dalam sangkar selama empat tahun," katanya sambil terisak. “Saya bisa kembali setiap musim panas. Ibuku bisa saja mengunjungiku. Saya merasakan larangan bepergian di tulang dan kulit saya,” ucapnya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar