>

Lakukan Tindakan Ilegal, Nelayan WNI Dipulangkan dari India

  Sabtu, 30 Januari 2021   Icheiko Ramadhanty
dok. Kemenlu

ANDAMAN, AYOJAKARTA.COM -- Kementerian Luar Negeri memulangkan 28 orang nelayan Kapal KM BSK 45 asal Aceh menggunakan pesawat Garuda Indonesia dan tiba di Jakarta pada Sabtu dini hari (30/1/2021). 

Para nelayan tersebut sebelumnya ditahan di Andaman, India sejak Maret 2020 karena memasuki wilayah India tanpa membawa dokumen yang lengkap dan diduga melakukan penangkapan ikan secara ilegal di Perairan Andaman.

Setelah menjalani proses peradilan pada tanggal 8 Januari 2021, ke-28 nelayan tersebut akhirnya berhasil dibebaskan. Sebelum memfasilitasi kepulangan ke Indonesia, KBRI New Delhi melakukan tes PCR untuk memastikan para nelayan tidak terpapar Covid-19.

"Setibanya di Jakarta, para nelayan menjalani karantina sesuai protokol kesehatan yang ditetapkan Satgas Penanganan Covid-19. Kementerian Luar Negeri juga berkoordinasi dengan Badan Penghubung Pemerintah Aceh dan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk pengaturan kepulangan dan pemberdayaan mereka selanjutnya di daerah asal," tulis keterangan resmi Kementerian Luar Negeri, Sabtu (30/1/2021).

Sebagai informasi, 28 nelayan tersebut ditangkap oleh Pemerintah India. Mereka ditangkap pada jarak 55 mil laut dari daratan Pulau Nikobar oleh polisi pengawal pesisir Pantai India Durgabai Deshmukh pada 3 Maret 2020 lalu.

Nelayan-nelayan tersebut melaut dengan Kapal KM BST 45, dan dibebaskan Pengadilan Andaman pada 16 Januari 2021 setelah diadvokasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) bersama Pemerintah Aceh dan PSDKP-KKP RI. 

Pemerintah Aceh melalui Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA), menyambut ke 28 nelayan tersebut yang tiba sekitar pukul 02.50 WIB menggunakan pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GAI 8270. 

Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh Almuniza Kamal mengatakan, ke 28 nelayan tersebut terbukti menyalahi teritori kelautan pemerintah India, sehingga terpaksa ditahan selama 11 bulan di India. 

"Namun, kerjasama berbagai pihak dan tanggap cepat pemerintah Aceh membuat ke 28 nelayan itu cepat dibebaskan. Tentu ini semua kerja bersama yang harus terus dijaga," kata Almuniza. 

Almuniza mengatakan, pemerintah Aceh dibawah pimpinan Gubernur Nova Iriansyah akan terus memberikan perhatian kepada seluruh masyarakat Aceh. Hal ini adalah bentuk komitmen pemerintah kepada masyarakat. 

Almuniza melajutkan, untuk sementara ke 28 nelayan tersebut akan terlebih dahulu diinapkan di hotel Mercure Gatot Subroto, guna menjalani proses karantina, sekaligus akan dilakukan swab untuk mengindari terjangkitnya Covid-19. 

"Mereka akan dikarantina selama lima hari. Setelah itu baru dipulangkan ke Aceh usai dipastikan bebas dari Covid-19," jelas dia. 

Almuniza mengatakan, sepanjang 2020 hingga saat ini, tercatat 160-an nelayan Aceh telah menyalahi toritori kelautan negara lain. Sehingga, mereka harus mendapat saksi penahan oleh otoritas setempat, seperti di Myanmar, Thailand, dan India. 

"Namun kesemua nelayan itu segera dibebaskan lantaran pemerintah Aceh tidak tinggal diam. Hanya saja, perlu edukasi mendalam terkait tapal batas kepada para nelayan sehingga kasus ini tidak terulang," jelas dia.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar