>

Waspada Sesar Lembang, Gempa Dapat Terjadi dengan Magnitudo Kecil

  Selasa, 02 Februari 2021   Budi Cahyono
Peta Sesar Lembang UGM. (dok. UGM)

AYO BACA : Selain Sesar Lembang, Ada Potensi Bahaya pada Sesar Cileunyi-Tanjungsari di Bandung Timur hingga Sumedang

AYO BACA : Gempa Majene, Kepala BMKG: Waspadai Gempa Susulan

BANDUNG, AYOJAKARTA.COM -- Salah satu hal yang mengundang kecemasan warga terkait potensi gempa Sesar Lembang adalah magnitudo-nya yang besar dan berpotensi merusak, yakni mencapai magnitudo 7. Besaran magnitudo tersebut hampir setara dengan yang melanda Sulawesi Utara pada Kamis 21 Januari lalu.

Potensi besaran magnitudo tersebut merupakan hasil penelitian yang telah dilakukan para ilmuwan, termasuk LIPI, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga BMKG. Besaran tersebut adalah estimasi yang dihitung dari geometri sesarnya.

Namun, besaran tersebut merupakan estimasi maksimal yang dapat ditimbulkan oleh pergerakan Sesar Lembang. Artinya, tidak menutup kemungkinan gempa yang muncul memiliki magnitudo yang lebih kecil.

"Bisa dikatakan seperti itu. Magnitudo M6,5 - M7 merupakan estimasi magnitudo maksimum gempa bumi yang bisa terjadi, dihitung dari geometri sesarnya. Artinya bila seluruh segmen sesarnya bergerak, bisa memicu gempa dengan kekuatan maksimum," ungkap Kepala Sub. Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Wilayah Barat PVMBG Ahmad Solihin ketika dihubungi, Selasa (2/2/2021).

Bila yang bergerak hanya sebagian, maka gempa Sesar Lembang dapat hadir dengan magnitudo yang lebih kecil.

Seperti yang pernah terjadi di Kampung Muril, Desa Jambudipa, Kec. Cisarua, Kabupaten Bandung Barat pada 2011. Ahmad mengatakan, gempa Sesar Lembang kala itu berkekuatan magnitudo 3,3.

"Memungkinkan sekali yang bergerak hanya sebagian dari segmen sesarnya dan menghasilkan gempa dengan kekuatan yang lebih kecil. Gempa merusak karena Sesar Lembang diantaranya terjadi pada 2011, dengan magnitudo M3,3 dan menyebabkan kerusakan di Kampung Muril," jelasnya.

Meski demikian, besaran magnitudo tersebut adalah estimasi yang didapat dari permodelan. Tidak ada yang dapat memastikan bahwa besaran tersebut 100% akurat.

"Jika kita bicara tentang kejadian gempa bumi, banyak sekali parameter-parameter yang tidak kita ketahui atau tidak dapat diukur secara pasti. Sampai saat ini belum ada ahli ataupun alat yang dapat memprediksi kejadian gempa bumi secara akurat, baik dari segi waktu, lokasi maupun kekuatannya," ungkapnya. (Nur Khansa)

AYO BACA : Terjadi Ledakan Keras di Langit Buleleng Bali, Begini Penjelasan BMKG

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar