>

Inspiratif! Bisnis Koyu Hijab, dari Kamar 3x3 Hingga Bangun Pabrik Sendiri

  Kamis, 11 Februari 2021   Husnul Khatimah
Inspiratif! Bisnis Koyu Hijab, dari Kamar 3x3 Hingga Bangun Pabrik Sendiri (AyoBandung)

TEBET, AYOAJAKARTA.COM -- Beberapa tahun silam, bangun dini hari untuk menjahit hijab menjadi rutinitas pasutri asal Kota Bandung, Reni Afriyanti dan Irvan Sofiyan. Keduanya merintis bisnis hijab dengan mengandalkan produksi sendiri di kamar berukuran 3x3 meter.

Pukul 01.00, Reni biasanya mulai bangun dari tidur malamnya dan mulai menjahit. Sang suami berperan sebagai 'operator mesin' bila terjadi masalah atau kerusakan.

Biasanya, kegiatan tersebut berlangsung selama dua jam, dilanjut dengan pengemasan dan pengiriman pesanan pada pukul 06.00. Dalam semalam, Reni dapat menjahit maksimal hingga 50 pcs hijab.

"Waktu itu namanya bukan home industry, lebih ke 'kamar industri'. Untuk pengemasan, balas chat konsumen, foto produk dan semuanya dilakukan di kamar itu, kamar anak," ungkap Irvan belum lama ini.

Hal tersebut terpaksa dilakukan mengingat keduanya masih memiliki pekerjaan tetap dengan jam kantoran. Di tengah keterbatasan, usaha hijab yang dinamai "Koyu Hijab" tersebut terus dijalani.

Perlahan, pesanan terus bertambah. Setelah setahun bekerja di kamar yang luasnya terbatas, mereka kemudian memutuskan untuk pindah ke rumah yang lebih besar.

Karyawan tambahan pun akhirnya dibutuhkan. Modal yang dikeluarkan untuk memulai bisnis tersebut, Reni mengatakan, hanya sebesar Rp500.000 untuk membeli kain meteran.

"Dulu cuma beli kerudung meteran, belanja pakai motor dan memang senang belanja kain sendiri. Lama-lama beli kain roll-an, lalu pesanan nambah dan enggak cukup. Mulai ngambil partai, sampai akhirnya pesan ke pabrik," ungkap Reni.

Bisnis tersebut dirintis pada 2014, dimana marketplace belum gencar digunakan masyarakat seperti saat ini. Keduanya memanfaatkan media sosial Instagram untuk berjualan.

Inspirasi mereka untuk membangun Koyu Hijab adalah tren penggunaan hijab di kalangan selebritis yang mulai berkembang. Kesukaan Reni berbelanja kain membuatnya iseng membuat hijab sendiri dan dijual.

"Iseng-iseng jualan di Instagram ternyata yang pesan lumayan banyak. Dulu sedang musim pashmina instan dan kerudung segiempat, jadi saya mengikuti tren. Setelah itu lanjut bikin motif hijab sendiri," ungkapnya.

Hijab bermotif itulah yang kemudian menghantarkan bisnisnya terus melesat. Pesanan tak hanya didapat dari konsumen dalam negeri, tetapi juga luar negeri seperti Malaysia.

"Lama-lama berpikir ingin beli mesin konveksi sendiri, alhamdulillah sekarang karyawan sudah lebih dari 100 orang. Enggak nyangka dari modal Rp500.000 bisa jadi seperti sekarang," ungkap Reni.

Namun, untuk mencapai titik tersebut, banyak momen jatuh bangun yang harus dihadapi. Mulai dari motif hijab yang dijplak pesaing hingga sempat terlilit hutang.

"Kita sempat besar hati, usaha masih kecil tapi malah bikin rumah, bikin toko pakai modal dari bank. Waktu itu sempat jatuh dan anjlok selama setahun, lalu mulai lagi dari nol," ungkapnya.

Pengalaman tersebut menjadikan keduanya lebih berhati-hati dalam melangkah, termasuk lebih memaksimalkan penjualan secara daring dan melakukan berbagai upaya pemasaran digital demi meraih lebih banyak konsumen.

Saat ini, segala upaya yang dilakukan telah berbuah manis. Pada 2015, menyelesaikan 15 pesanan dalam sehari sudah sangat membuat keduanya bahagia.

"Sekarang kalau paket, dalam sebulan sudah lebih dari 40 ribu pesanan. Satu paket itu isinya kan enggak cuma satu item. Kalau per-barang, mungkin bisa 50-100 ribu pcs per-hari," ungkap Reni.

Bahkan di tengah pandemi, Koyu Hijab memutuskan untuk membangun gudang anyar agar produksi dapat berjalan lebih lancar.

"Tips dari kami, di awal-awal berbisnis coba pasarkan produknya ke teman dan saudara, kasih endorsement gratis. Lalu coba perbanyak pasang iklan di media sosial. Lama-lama perluas hingga pasang iklan di televisi karena hasilnya lumayan menjanjikan," ungkapnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar