>

Dua Tahun Lamanya, Pintu Masuk Rumah Warga di Tangerang Tertutup Beton Berkawat Duri

  Senin, 15 Maret 2021   Husnul Khatimah
Dua Tahun Lamanya, Pintu Masuk Rumah Warga di Tangerang Tertutup Beton (Republika)

TEBET, AYOJAKARTA.COM -- Gamang dan bingung ditunjukkan Hadiyanti (55 tahun) di kediamannya di Jalan Akasia 2, RT 004, RW 003, Kampung Brebes, Kelurahan Tajur, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, Banten, Sabtu (13/3). Dia mengaku, masih syok dan trauma akibat berseteru dengan Haji Rulli (58) terkait perkara pagar beton yang roboh.

Pagar beton yang dimaksud adalah tembok yang menjulur di sepanjang depan rumahnya, yang menutup akses jalan masuk dan keluar rumah Hadiyanti. Pada 21 Februari 2021, saat Kota Tangerang dan sekitarnya dilanda hujan lebat, banjir menghantam rumahnya. Tak terkecuali tembok di depan rumah Hadiyanti setinggi sekitar 1,5 meter, yang dibangun oleh Haji Rulli.

"Tiba-tiba Pak Haji datang todongin golok ke leher saya. Dia bilang 'siapa yang robohin?' Saya bilang enggak tahu. Itu air banjir (yang bikin tembok roboh)," kata Hadiyanti menjelaskan peristiwa yang masih teringat jelas di benaknya saat ditemui di rumahnya, Sabtu.

Dia dalam kondisi terbaring di tempat tidur dengan suara agak serak. Hadiyanti menjelaskan, golok yang digenggam Haji Rulli sempat dihadapkan kepada cucu-cucunya. Insiden itu membuatnya jatuh sakit hingga kini.

Penodongan golok merupakan puncak masalah antara Hadiyanti dan Haji Rulli. Keduanya terlibat perkara lahan yang kepemilikannya masih disengekatan. Hadiyanti dan keluarganya menghuni rumah yang sekarang sejak 2015. Hadiyanti tinggal bersama sang anak bernama Anna Melinda Munir (30), serta dua cucunya, April (5) dan Dinda (3).

Selama dua tahun ke belakang, kehidupan Hadiyanti semakin tidak nyaman setelah pagar beton dibangun mengelilingi rumahnya. Dia pun mengalami kesulitan untuk bisa beraktivitas sehari-hari. Hadiyanti dan anggota keluarganya, harus bolak-balik melewati tembok. Hanya saja, Hadiyanti mengaku, hingga saat ini, belum benar-benar bermusyawarah dengan Haji Rulli untuk mencapai titik temu masalah tersebut.

Dia menegaskan, tidak meminta apa-apa, kecuali diberikan akses jalan untuk bisa masuk dan keluar rumah dengan mudah. "Harapan untuk pemerintah, tolong dibantu ya,” tutur Hadiyanti dengan suara lirih.

Pantauan Republika-jejaring ayojakarta.com, tembok beton setinggi 1,5 meter berdiri tegak di depan rumah Hadiyanti. Tembok terdiri dua lapis yang memanjang hingga sekitar 200 meter dengan jarak antara tembok satu dengan tembok lainnya 2,5 meter. Di sisi tembok pertama, terpasang tangga yang terbuat dari kayu di tiap sisi bawahnya.

Sementara di tembok satunya, hanya ada kursi plastik yang digunakan sebagai pijakan untuk naik dan turun dari tembok. Dia bagian atasnya terpasang kawat berduri. Adapun di bagian depannya yang menghadap ke jalan raya tertulis perngatan 'Dilarang Masuk Tanah Pribadi'.

Anak Hadiyanti yang kebetulan sedang berkunjung, Acep Waini Munir (28) mengakui, permasalahan yang ada hulunya akibat perselisihan lahan yang ada di depan rumah ibunya. Acep menyebut, pembangunan tembok dilakukan sekitar dua tahun lalu atau pada 2019.

"Pihak Rulli mengaku itu miliknya. Yang saya ketahui itu jalanan umum. Sudah dihibahkan oleh almarhum orang tuanya (orang tua Rulli). Kemarin kejadian roboh yang bikin makin panas situasinya karena ibu saya dikira sengaja merobohkannya,” ujar Munir.

Dia menuturkan, rumah yang ditempati ibunya memang awalnya merupakan milik orang tua Haji Rulli bernama Anas. Rumah tersebut oleh almarhum Anas diagunkan ke bank. Oleh pihak bank, sertifikat rumah dilelang karena utang dibayar.

Melalui proses lelang, menurut Munir, suami ibunya memenangkannya pada 2015. Hanya saja, yang masih menjadi masalah adalah jalan di depan rumah. Haji Rulli akhirnya menutup akses tersebut karena mengeklaim lahan miliknya.

Acep mengatakan, ibunya sudah membuat laporan ke Polres Metro (Polrestro) Tangerang Kota. Laporan terkait pengancaman dengan senjata tajam dan masalah sengketa tanah. Dia berharap, masalah yang ada bisa menemukan titik temu.

Kapolsek Ciledug, Kompol Wisnu Wardana menyampaikan, jajarannya sedang melakukan penyelidikan terhadap masalah yang menimpa Hadiyanti. "Kami meminta keterangan terkait dengan pengancaman, kami membantu menyelesaikan permasalahan ini, termasuk sengketa tanah,” ujarnya.  

Wisnu menuturkan, permasalahan sengketa sebenarnya sudah ditangani sejumlah pihak terkait melalui mediasi. Petugas kelurahan dan kecamatan juga sudah tangan. Namun, Haji Rulli tidak kooperatif. Karena itu, kasus sengketa tanah ditangani Polrestro Tangerang Kota.

“Petugas sudah pernah datang ke rumahnya, tapi solusinya belum ada. Dia (Haji Rulli) keras bahwa ini tanahnya dia. Ini kan menurut cerita hibah, tapi menurut pihak lain ada sertifikatnya. Ini yang mau dicari terkait kebenaran kepemilikannya, lagi berproses di Polres laporan sengketa lahan atau apa,” terangnya.

Lurah Tajur Sakri mengatakan, pihaknya sudah berupaya melakukan mediasi kedua belah pihak sejak 2019. Sayangnya, Haji Rulli sama sekali tidak pernah hadir ketika diundang. "Bahkan (kami) datang ke rumahnya malah enggak diladenin. Bingung juga gimana caranya," ujar Sakri.

Dia menyebut, petugas sudah membantu memverifikasi bukti kepemilikan lahan yang ada di depan rumah Hadiyanti. Saat ini, pikelurahan bersama kecamatan berkoordinasi dengan Satpol PP untuk menindak jika ada pelanggaran. "Masalahnya ini belum diketahui kepemilikannya siapa," terang Sukri.

Republika sempat mendatangi Perumahan Pondok Maharta Ciledug, namun Haji Rulli tidak sedang berada di rumahnya. Ketika dikontak, istri Haji Rulli berbicara dengan nada tidak enak. "Enggak usah (wawancara)," kata sang istri di ujung telepon.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar