>

Ondel-ondel Dilarang Ngamen di Jakarta, Apa Alasannya?

  Kamis, 25 Maret 2021   Aini Tartinia
Ondel-ondel Dilarang Ngamen di Jakarta, Apa Alasannya?

TEBET, AYOJAKARTA.COM - Pemprov DKI Jakarta mulai kembali menertibkan ondel-ondel yang kerap digunakan untuk mengamen di jalanan ibu kota. Alasan penertiban karena ondel-ondel merupakan salah satu warisan budaya betawi yang perlu dijaga dan dilestarikan.

Akun Instagram Dinas Perhubungan DKI Jakarta @dishubdkijakarta menyosialisasikan sebuah gambar ondel-ondel berisi pesan larangan menggunakan ondel-ondel sebagai sarana mengamen di tempat umum. Hal Itu sesuai Peraturan Daerah No.8 Tahun 2007 tentang ketertiban umum.

Ondel-ondel merupakan salah satu warisan budaya betawi dan tercantum dalam Pergub No.11 Tahun 2017 sebagai Ikon budaya betawi yang perlu dijaga dan dilestarikan dengan penuh kebanggaan. Ondel-ondel sebagai sebuah kesenian saat ini mengalami pergeseran nilai dengan semakin maraknya ondel-ondel yang digunakan oleh sekelompok orang sebagai sarana mengamen, mengemis, dan meminta uang.

"Mari tetap jaga nilai-nilai warisan budaya dengan baik. Kolaborasi semua pihak sangat dibutuhkan dalam menjaga ondel-ondel sebagai simbol kekayaan dan kebanggaan budaya Betawi di Jakarta," tulis @dishubdkijakarta yang dikutip Ayojakarta, Kamis (25/3/2021).

Dilansir dari berbagai sumber, ondel-ondel adalah salah satu kesenian yang bersumber dari akar kebudayaan asli betawi. Konon katanya, boneka besar dengan tinggi sekitar 2,5 meter dan berbadan diameter kurang lebih 80 cm itu sudah ada sejak zaman pra-Islam di pulau Jawa. Selalu dikaitkan dengan dunia magis, Ondel-ondel mulanya merupakan simbolisasi dari penjaga kampung dari segala macam bahaya, ancaman, dan wabah penyakit.

Bagian wajah ondel-ondel berupa topeng atau kedok, dengan rambut kepala dibuat dari ijuk. Wajah ondel-ondel laki-laki biasanya dicat dengan warna merah, sedangkan yang perempuan warna putih.

Diameter tubuh dibuat dari anyaman bambu yang disiapkan begitu rupa sehingga mudah dipikul dari dalamnya. Bagian depannya diberi rongga kecil sebagai celah bagi penunggang untuk melihat ke luar. Tujuannya agar penunggang ondel-ondel tidak kehilangan arah dan mampu bergoyang sesuai irama. Ondel-ondel juga memiliki goyangan khas yang dikenal dengan nama ngibing, yaitu gerakan memutar tubuh dengan cepat.

Pertunjukan ondel-ondel biasanya diiringi tanjidor atau kelompok orkes kampung, yang terdiri dari beberapa alat musik seperti kendang, gong, kenong, bas, dan sukong sebagai suara melodinya. Melodi yang keluar dari sukong biasanya lagu-lagu tradisional betawi, seperti Kicir-Kicir dan Jali-Jali.

Pada sekitar 1990-an, pementasan ondel-ondel yang dilakukan di jalanan sering sekali terlihat. Namun, pada awal 2000-an jarang ditemukan pementasan ini. Di tengah gempuran modernisasi dan maraknya dunia hiburan digital, masyarakat Jakarta pada 2010-an sering menyaksikan pementasan ondel-ondel di jalanan dan difungsikan untuk mengamen.

Pementasan di jalan ini biasanya dilakukan oleh anak-anak dengan usia sekitar 13 hingga 18 tahun. Satu kelompok pementasan bisa terdiri dari belasan orang jika menggunakan alat musik yang cukup lengkap. Namun, jika musiknya hanya menggunakan rekaman paling hanya 4 orang. 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar