>

Serang Mabes Polri, Benarkah Zakiah Aini 'Sendirian' ?

  Sabtu, 03 April 2021   Husnul Khatimah
Ilustrasi (Pixabay)

TEBET, AYOJAKARTA.COM -- ZA menyerang Markas Besar Polri, Rabu (31/3) kemarin. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyebut perempuan berusia 25 tahun itu sebagai teroris yang beraksi sendirian atau lone wolf. Jejak yang ditinggalkan ZA memang serupa dengan karakteristik 'serigala sendirian', tapi orang tuanya berkata lain. 

Pada Rabu sore itu, ZA datang sendirian dan berhasil menerobos masuk ke Markas Besar Polri. Dia lalu melepaskan tembakan sebanyak enam kali menggunakan air gun ke arah polisi. Aparat lantas menembak mati perempuan muda itu. 

Setelah kematiannya, penyidik menemukan surat wasiat ZA di kediamannya di Ciracas, Jakarta Timur. Surat tulisan tangan untuk keluarganya itu berisikan sejumlah pesan, termasuk pesan terkait isu politik. 

"Pesan berikutnya untuk kaka agar di rumah Cibubur jaga dede dan mama, ibadah kepada Allah dan tinggalkan penghasilan dari yang tidak sesuai ajaran Islam, serta tinggalkan kepercayaan kepada orang-orang yang mengaku mempunyai ilmu, dekati ustad/ulama, tonton kajian dakwah, tidak membanggakan kafir Ahok dan memakai hijab kak," demikian penggalan surat ZA. 

Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama adalah mantan Gubernur DKI Jakarta. Dia diketahui sempat memicu kemarahan publik karena pernyataannya menyinggung ayat Alquran pada 2016 silam.

Penyendiri 

ZA diketahui tinggal bersama orang tuanya di Gang Taqwa, Jalan Lapangan Tembak, Ciracas, Jakarta Timur. Sejumlah tetangganya menyebut bahwa ZA adalah sosok yang penyendiri, pendiam dan tertutup. 

Ketua RT setempat, Kasdi, mengatakan, ZA yang merupakan anak bungsu dari enam bersaudara itu mulai terlihat pendiam dan mengasingkan diri sejak duduk di bangku SMP. "Keluarganya sendiri aja jarang ngobrol sama pelaku itu. Tertutup deh," kata Kasdi kepada wartawan, Kamis (1/4).  

Sejak saat itu, para tetangga mulai jarang melihat ZA. Termasuk Kasdi yang rumahnya hanya berjarak sekitar 100 meter dengan kediaman ZA. "Kita para tetangga juga tidak pernah melihat dia main-main keluar rumah dengan tetangga. Udah mengucilkan diri aja di dalam rumah," ujar Kasdi. 

ZA, lanjut Kasdi, juga tidak pernah didatangi temannya ke rumah. "Kayaknya dia tidak punya temen kalau saya bilang. Orang dia tidak pernah mencari temen," ungkap Kasdi. 

ZA amat berkebalikan dengan keluarganya. Ibu dari ZA, lanjut Kasdi, aktif di Posyandu. Sedangkan bapaknya sering ke mushala dan ngobrol dengan warga. Begitu pula kakak-kakak ZA yang dikenal terbuka dan mau bersosialisasi.  

"Ayah ibunya aktif. Anaknya (ZA) doang yang diem di kamar aja. Kalau keluar itu paling sampe teras, berapa menit, balik lagi ke kamar," ujar Kasdi. Bahkan, lanjut dia, ZA tak pernah terlibat acara perayaan 17 Agustus di wilayah setempat. 

Hal serupa disampaikan tetangganya yang lain bernama Agung (35). Agung mengaku terakhir kali melihat ZA sekitar satu bulan yang lalu. Padahal dirinya berjualan sayuran setiap pagi persis di depan rumah ZA. 

ZA, kata Agung, memang cenderung menarik diri dari lingkungan sekitarnya. ZA tak memiliki teman di lingkungan rumahnya. Ia juga tak pernah muncul saat hari-hari besar. "Nggak hanya saat 17 Agustus-an saja, saat hari raya Idul Fitri dia juga nggak ada muncul," kata Agung. 

Lantaran selalu menarik diri, ZA sangat mengandalkan ponselnya. Untuk memesan kelapa hijau saja, kata Agung, ZA menggunakan jasa ojek daring. Padahal rumahnya tak jauh ke tempat penjual kelapa.

Serupa

Sejumlah jejak yang ditinggalkan ZA dan sifatnya semasa hidup serupa dengan penjelasan terkait serigala sendirian yang disampaikan Ramon Spaaij, professor di Victoria University Melbourne, Australia dan kepala Sociology of Sport di Department Sosiologi University Amsterdam, Belanda. 

Dalam bukunya yang terkenal, Undertanding Lone Wolf Terorrism: Global Patterns, Motivations and Prevention, Ramon Spaaij cukup jeli menguraikan tentang lone wolf. 

Ia membuat riset dengan mengidentifikasi 88 kasus terorisme serigala sendirian di Amerika Utara, Eropa, dan Australia antara tahun 1940 dan 2010. 

Spaaij berkesimpulan bahwa tak ada standar profil tertentu untuk mengklaim seseorang sebagai lone wolf. Kendati demikian, radikalisasi lone wolf cenderung dihasilkan dari kombinasi proses individu, hubungan antarpribadi dan keadaan sosial-politik, dan budaya.  

Ada lima hal penting yang dicatat Spaaij terkait lone wolf berdasarkan hasil risetnya. Pertama, Spaaij menemukan lone wolf cenderung menciptakan ideologi mereka sendiri yang menggabungkan frustrasi pribadi dengan keluhan-keluhan dan ketidakpuasan politik, sosial atau agama. Karena motif ini bersifat campuran sehingga agak sulit bagi aparat untuk menetapkan motif yang jelas untuk sebuah serangan teror lone wolf. 

Kedua, bertentangan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa teroris tidak menderita psikopatologi yang dapat diidentifikasi, Spaaij menunjukkan bahwa serigala penyendiri cenderung menderita beberapa bentuk gangguan psikologis. Ada persoalan kejiwaan yang mendera para lone wolf ini. 

Ketiga, lone wolf cenderung menderita ketidakmampuan sosial dan dalam berbagai tingkatan, mereka menyendiri dengan sedikit teman dan lebih suka bertindak sendiri. Mereka tidak mau berinteraksi meskipun berada dalam sebuah komunitas atau gerombolan.  

Keempat, meskipun serigala penyendiri menurut definisi tidak berafiliasi dengan organisasi teroris, mereka bisa melakukan identifikasi atau bersimpati dengan kelompok ekstremis tertentu. Mereka, para lone wolf ini, mungkin pernah menjadi anggota kelompok semacam itu di masa lalu atau pernah berempati dan bersimpati.  

Organisasi-organisasi yang mereka simpatikan ini memberikan semacam ideologi validasi kepada lone wolf. Ideologi validasi ini yang kemudian masuk ke kepala mereka dan bercampur dengan pikiran-pikiran kekecewaan dan kemarahan yang sudah membuncah. 

Kelima, terorisme lone wolf jelas tidak terjadi dalam ruang hampa sosial. Sebaliknya, radikalisasi lone wolf dapat memanifestasikan dirinya dalam sikap aktif, yang melibatkan ekspresi keyakinan politik dan konfrontasi fisik dan verbal dengan musuh. 

M Ali, ayah kandung ZA, meyakini bahwa anak bungsunya itu melakukan penyerangan bukan karena kemauannya sendiri, melainkan karena ada tuntunan dari orang lain. 

Hal ini diketahui berdasarkan penuturan tetangganya yang bernama Tiuria. Tiuria tampak sempat berbicara dengan Ali terkait kematian ZA pada Kamis siang. 

Tiuria mengatakan, Ali memang meyakini bahwa ZA beraksi bukan atas kemauannya sendiri. "Kata dia ada orang yang menuntun anaknya (ZA). Ada yang bawa dia, bapaknya bilang gitu. Karena anak seperti itu masih labil-lah ketika diajak, ya dia mau," kata Tiuria kepada wartawan.  

Polisi diketahui turut mengamankan barang bukti berupa kartu tanda anggota (KTA) Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin) atas nama ZA. Tiuria mengatakan, Ali selama ini juga tak mengetahui bahwa putrinya ikut klub menembak.  

"Pak Ali tidak tahu sama sekali (soal KTA Perbakin). Kegiatan dia di luar aja sama sekali orang tuanya, keluarganya, tidak tahu. Makanya mereka juga kaget sesudah kejadian ini. Makanya tadi kan dibilang 'ada yang nuntun', 'ada yg bawa'," tutur Tiuria.  

Dugaan bahwa ZA tak bergerak sendirian itu diperkuat dengan cara ZA berkomunikasi. Ia kerap mengganti nomor handphone (HP) dan enggan memberikan nomornya kepada keluarga. 

"Nomor HP pelaku ini gonta-ganti. Ketika kakaknya bertanya nomor HP, (dia bilang) nggak ada. Keluarga ngelacak nomor HP pelaku ini tidak pernah ketemu," kata Kasdi berdasarkan penuturan keluarga ZA kepadanya. 

Oleh karena itu, kata Kasdi, keluarganya tidak bisa menghubungi ZA. Sedangkan ZA bisa mengontak saudaranya. Tapi, setelah itu dia kembali mengganti nomor HP. "Kalau pelaku ngontak saudaranya bisa. Almarhumah ini nomor HP-nya gonta-ganti," ucap Kasdi.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar