>

Menlu Retno Beberkan Data Kesenjangan Vaksinasi di Dunia, Negara ASEAN Paling Rendah

  Jumat, 11 Juni 2021   Icheiko Ramadhanty
Ilustrasi vaksin Covid-19 / Pixabay

TEBET, AYOJAKARTA – Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan, beberapa negara yang telah melakukan vaksinasi secara luas, berhasil menurunkan angka penyebaran virus secara signifikan. Misalnya di Eropa, Inggris telah mampu menurunkan kasus harian hingga di angka 5.000-an dari sebelumnya mencapai 60 ribu kasus per-hari.

Hal itu terjadi setelah Pemerintah inggris berhasil menyuntikkan dosis vaksin kepada masyarakatnya hingga mencapai 101,51% populasi. Contoh lainnya adalah Amerika Serikat yang mampu menurunkan kasus baru per harinya dari sekitar 300 ribu menjadi 12 ribu per hari, setelah dosis vaksin yang diberikan mencapai 91,57% populasi.

Namun, Retno menyadari terdapat kesenjangan distribusi dan vaksinasi yang sangat besar di negara-negara di dunia. Dia menyebut, dari sekitar 2,2 miliar dosis vaksin yang telah disuntikkan, sekitar 75% berada hanya di 10 negara maju dan hanya 0,4% yang berada di negara-negara berpenghasilan rendah.

Dari perhitungan persentase vaksinasi terhadap populasi, kawasan Amerika Utara telah memvaksinasi sebanyak 64,33% dari total populasi dan Kawasan Eropa telah memvaksinasi sebesar 52,85% dari total populasi. Sementara persentase terendah dimiliki Kawasan Afrika sebesar 2,86% dan Kawasan ASEAN sebesar 8,91% dari total populasi.

“Angka ini masih jauh dari target WHO yang mengharapkan setidaknya 10% penduduk di setiap negara telah divaksin pada bulan September, dan 30% pada akhir Desember tahun ini,” kata Retno, dalam konferensi persnya pada Kamis 10 Juni 2021 malam.

Untuk mengurangi tingkat kesenjangan tersebut, kata Retno, COVAX Facility terus mendorong mekanisme dose-sharing atau berbagi vaksin. Beberapa negara seperti AS, Jepang, Denmark, Belgia dan Spanyol akan menyalurkan ekstra vaksin yang dimiliki melalui skema COVAX Facility.

Dengan mekanisme ini, maka negara-negara tersebut menyumbangkan vaksin yang dimiliki kemudian dikelola oleh COVAX facility untuk dibagikan kepada negara lain yang memerlukan. Sebagai salah satu co-chairs COVAX AMC Engagement Group, Retno mengatakan, Indonesia memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk terus memperjuangkan akses setara terhadap vaksin.

Selain menjadi salah satu co-chairs COVAX AMC Engagement Group upaya lain yang dilakukan Indonesia untuk merealisasikan kesetaraan akses terhadap vaksin bagi semua negara, kata Retno, adalah melalui keaktifan Indonesia menjadi salah satu co-sponsor proposal TRIPS waiver (penghapusan hak kekayaan intelektual) untuk produk dan teknologi yang digunakan untuk penanganan pandemi Covid-19. Kemudian, pembahasan awal terhadap teks proposal ini di World Trade Organization (WTO) kemungkinan akan dimulai pada 17 Juni 2021.

“Kita semua berharap agar negosiasi terhadap proposal ini dapat diselesaikan dalam waktu cepat, untuk membantu meningkatkan produksi dan distribusi vaksin secara signifikan,” ujarnya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar