--> -->

Yuk Kenalan dengan Kelas Prestasi, Komunitas Pembawa Harapan Bagi Pendidikan di Bengkulu

  Sabtu, 12 Juni 2021   Icheiko Ramadhanty
Salah satu kegiatan Kelas Prestasi / dok: Kelas Prestasi

TEBET, AYOJAKARTA -- Provinsi Bengkulu yang terletak di bagian Barat Daya Pulau Sumatera menyimpan banyak cerita. Cerita dan harapan yang tersimpan diantaranya tentang dunia pendidikan dan masa depan.

Kelas Prestasi contohnya. Komunitas ini menjadi satu dari sekian banyak pintu harapan bagi anak-anak Bengkulu untuk terus bermimpi setinggi langit dan menggapainya. Komunitas yang terdiri dari sekumpulan mahasiswa/i asal Universitas Bengkulu, dengan adanya kesaman kesadaran akan gap sosial yang besar.

Ketua Kelas Prestasi, Prasiska Priatini mengatakan bahwa Kelas Prestasi merupakan komunitas yang berdiri sendiri tanpa ada naungan dari lembaga atau yayasan manapun. Didirikan oleh sang Founder, Olivia Alfath Azhari yang saat ini menempuh pendidikan S2 di Universitas Wageningen Belanda, Kelas Prestasi didirikan karena kesadaran akan besarnya potensi generasi muda di Provinsi Bengkulu.

“Belum ada wadah yang terfasilitasi secara maksimal, masih adanya gap antara mahasiswa yang sudah berprestasi dan mahasiswa yang baru ingin memulai, masih kurangnya lingkungan yang inklusif dan mendukung untuk mengembangkan diri dan berprestasi (di bidangnya masing-masing),” tutur Pika, panggilan akrab Prasiska saat ditanya Ayojakarta terkait dasar didirikannya Kelas Prestasi, Sabtu 12 Juni 2021.

Komunitas yang didirikan sejak 2016 ini berharap dapat menjadi wadah dan tempat saling berbagi pengetahuan, soft skill, dan koneksi untuk saling mengejar mimpi dan meraih prestasi. Nantinya, semangat dari Kelas Prestasi, akan diteruskan ke masyarakat, khususnya anak-anak melalui project sosial.

Sesuai dengan motto Kelas Prestasi yaitu ‘semangat berprestasi, semangat berkontribusi’, komunitas ini banyak mengadakan project sosial setiap tahunnya, seperti mengajar anak-anak di desa terpencil, mengajar anak-anak jalanan, dan berbagi sembako. Tidak hanya itu, Kelas Prestasi juga menjadi wadah pembelajaran nilai-nilai moral bagi anak-anak di Bengkulu.

“Target kami terutama anak-anak kecil, itu kami ajarkan seperti nilai-nilai toleransi, nilai-nilai Pancasila, dan semangat belajar yang tinggi. Kami juga mengajarkan pembelajaran Bahasa Inggris. Kami mengajarkan bagaimana memanfaatkan plastik menjadi barang yang berguna seperti anak-anak nelayan, itu kami memungut sampah dan di daur ulang. Dapat uangnya dari sana,” cerita Pika dengan sumringahnya seolah mengajak untuk merasakan kebahagiaan berbagi.

Pendidikan di Bengkulu Sebelum dan Setelah Pandemi

Pika bercerita bahwa sebelum adanya pandemi Covid-19, pendidikan di Provinsi Bengkulu terutama untuk jenjang Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat, cukup kondusif. Namun itu hanya terjadi di wilayah perkotaan saja.

Ada beberapa daerah terpencil, menurut Pika, dimana pendidikan tersebut belum merata. Hal itu dinilai berdasarkan kurangnya fasilitas, terutama perpustakaan yang bahkan belum ada.

“Makanya sekarang lagi diajukan dan dibuat proposal untuk mengajukan ke dinas terkait. Kami ajukan dengan komunitas lain yang juga menyampaikan aspirasinya. Kami saling colab. Namun hingga saat ini, belum ada jawaban dari dinas terkait,” ujarnya.

Untuk menyiasati ketidakmerataan tersebut, Kelas Prestasi hadir untuk mengadakan stand bazaar buku. Layaknya perpustakaan keliling, buku-buku yang dijajakan cukup banyak, mulai dari buku bergambar hingga buku mendongeng.

“Mereka (anak-anak) sudah senang. Walaupun di daerahnya kurang bacaan, tapi mereka senang dengan adanya perpustakaan keliling,” kata Pika.

Setelah pandemi, pendidikan di Bengkulu di kota dan daerah-daerah terpencil berjalan kurang kondusif. Pika bercerita, banyak anak-anak yang merasa stres dengan kondisi tersebut.

Selain itu, juga ditemukan banyak kasus dimana anak-anak secara paksa meminta uang kepada orang tuanya untuk membeli laptop dan susah menemukan sinyal di beberapa daerah. Pika dan yang lainnya pun berharap agar kondisi ini cepat membaik, agar anak-anak di Bengkulu dan daerah lain dapat belajar seperti semula.

“Belajar online memang praktis, tapi sebagian anak yang pernah kami survey, belajar online tidak efektif karena anak lebih suka berinteraksi langsung dengan teman-teman dan gurunya. Kalau online, banyak siswa yang hanya sekedar menghidupi zoom saja. Banyak juga orang tuanya yang mengerjakan tugas daripada anak-anaknya, terutama anak SD. Ini banyak terjadi di lingkungan saya,” tutur Pika yang menurutnya ini terjadi secara umum, baik di kota maupun di desa di Bengkulu.

Harapan Adanya Kelas Prestasi

Kelas Prestasi seolah hadir untuk menjadi harapan bagi seluruh anak-anak di Bengkulu yang pernah merasakan kebermanfaatannya. Tidak hanya saling belajar dan mengajari, Kelas Prestasi juga hadir untuk memotivasi mereka dapat bermimpi besar.

“Pengen bisa kayak kakak yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Pengen bisa kayak kakak bisa hebat, bisa naik pesawat keliling-keliling ke luar negeri. Pengen jadi kakak biar bisa terbang tinggi,” ujar anak-anak yang pernah ditemui oleh Kelas Prestasi.

Pika mengungkap harapannya dengan Kelas Prestasi, bahwa dengan komunitas ini, akan lebih banyak bermanfaat untuk orang-orang yang bukan saja dirasakan oleh anak-anak kecil tetapi juga orang dewasa. Mewakili anggota lain, kata Pika, mereka berharap agar Kelas Prestasi lebih maju lewat kolaborasi dengan komunitas-komunitas pendidikan lain di luar Provinsi Bengkulu.  

“Kami sekarang mau coba untuk membuat inovasi baru atau konten-konten kreatif baru, supaya mereka yang ada di luar sana, bisa mengenal kami dan senang berbagi dengan orang lain,” ucap Pika.

Bahkan, Pika menyebut ada orang yang tertarik bergabung dengan Kelas Prestasi yang berasal dari Kalimantan. Hal tersebut, kata dia, lantaran melihat konten-konten kreatif dan Instagram live milik akun Kelas Prestasi.

“Dan kami berharap, kedepan bisa mengundang narasumber-narasumber hebat tanpa imbalan, karena kami komunitas independen Pemasukan kami hanya ketika kami membuat acara-acara tertentu,” ujarnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar