--> -->

Survei: Sepertiga Warga Jakarta Kawatir Kehalalan dan Kemanjuran Vaksin Covid-19

  Senin, 14 Juni 2021   Aini Tartinia
Kolaborator Ilmuwan Covid-19 pada LaporCovid-19, Dicky Pelupessy dalam konferensi pers Pemaparan Hasil Survei Tentang Persepsi dan Kesediaan Warga DKI Jakarta/dok: YouTube Lapor Covid-19.

TEBET, AYOJAKARTA - Sebanyak sepertiga lebih warga DKI Jakarta diketahui masih kawatir terhadap vaksin Covid-19. Kekawatiran tersebut meliputi status kehalalan, kemanjuran, hingga efek samping vaksin.

Demikian hasil survei yang dilakukan Lapor Covid-19 bersama Lab Intervensi Sosial, Krisis-Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), dan Social Resilience Lab, NTU.

Survei yang dilakukan selama dua pekan sejak 30 April sampai 15 Mei 2021 itu   diikuti 57.231 responden yang tersebar di seluruh wilayah DKI Jakarta. Namun hanya 47.457 responden yang menyelesaikan survei dan tervalidasi.

Sebagian besar responden adalah lulusan SMA (53,8%) dan sarjana (13,6%), ibu rumah tangga (42,8%), pekerja swasta ( 15,48%) dan pekerjaan lain sebesar 10,9%.

Kolaborator Ilmuwan Covid-19 pada LaporCovid-19, Dicky Pelupessy mengungkapkan bahwa temuan utama dari survei ini adalah kurang lebih sepertiga atau satu dari tiga warga DKI Jakarta takut pada vaksin Covid-19.

"Sepertiga responden atau 10.789 orang kawatir bahwa vaksin Covid-19 tidak halal," kata Dicky dalam konferensi pers virtual dalam channel YouTube Lapor Covid-19, Minggu 13 Juni 2021 kemarin.

Selanjutnya sebanyak 34% responden atau 16.102 orang yang kawatir terhadap kemanjuran vaksin Covid-19. Sementara, 32% responden atau 14.889 warga takut akan efek samping vaksin atau kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI).

"Menariknya, mereka yang berusia 50-60 tahun (pralansia), dengan pekerjaan TNI-Polri dan tenaga kesehatan merupakan kelompok yang tertinggi memiliki kekhawatiran terkena efek samping vaksin Covid-19," tutur Dicky.

Temuan lain, lanjut Dicky, survei ini menunjukkan bahwa mayoritas warga DKI (70%) relatif tidak memiliki hambatan yang berarti dalam mendapatkan informasi seputar pendaftaran dan lokasi vaksinasi serta transportasi.

Namun, sebagian kecil responden (13,4% atau 6.366 orang) mengaku masih memiliki kesulitan dalam mengakses informasi tentang vaksinasi.

"Meski jumlah responden lansia hanya 18,7%, tetapi sepertiganya atau 32,56% kelompok umur lansia menunjukkan ketergantungan pada orang lain untuk mendaftar dan berangkat ke tempat vaksinasi," pungkas dia.

Diketahui, survei Lapor Covid-19 ini dilakukan secara online dengan penarikan sampel menggunakan metode convenience sampling. Penyebaran survei dibantu oleh Biro Tata Pemerintahan DKI Jakarta dan jaringan komunitas warga.

Untuk mempelajari hambatan dan faktor yang mendorong warga DKI untuk divaksinasi, Lapor Covid-19 menggunakan pendekatan health belief model yang mengukur kecenderungan umum kekhawatiran, kerentanan, hambatan, dan manfaat vaksinasi.

 
   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar